Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Minggu, 05 Juli 2009

Air Zam-zam Memiliki Kandungan Yang Berbeda dengan Air Biasa ?

Benar, air zam-zam memiliki keistimewaan dalam zat-zat yang dikandungnya. Tentang hal ini, sejumlah peneliti dari Pakistan telah melakukan penelitian panjang dan akhirnya mereka menemukan hal ini. Dan Pusat Penelitian Haji pun sudah melakukan hal yang sama terhadap air zam-zam, maka mereka menemukan bahwa air zam-zam adalah air yang menakjubkan, berbeda dengan air pada umunya.
Sami Unqowy, Eng., Ketua Pusat Penelitian Haji, "Ketika kami melakukan penggalian untuk perluasan sumur zam-zam, maka setiap kali mengambil air zam-zam tersebut semakin bertambah air yang keluar, setiap kami mengambil airnya, bertambah pula air dari sumur zam-zam itu, ...maka kami menyibukkan diri untuk memompa (menyedot) air zam-zam itu dengan tiga kali sedotan agar kering sehingga memudahkan kami dalam memasang pondasi. Lalu, kami pun melakukan penelitian terhadap air zam-zam dari celah-celah mata airnya untuk mengetahui ada tidaknya bakteri. Maka, ternyata air zam-zam tesebut tidak mengandung satu jenis bakteri pun!! Murni dan bersih. Akan bisa terkontaminasi setelah dipindahkan pada bejana atau ember, maka polutan pun masuk kepadanya !! Akan tetapi air itu bersih dan suci tidak terdapat bakteri apapun. Ini adalah keistimewaan air zam-zam. Dan diantara keistimewaan lainnya adalah engkau masih bisa menikmati air zam-zam itu sampai sekarang, dan terus mengalir sejak zaman Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sampai kini.




Berapa usia sumur biasa untuk tetap bisa mengeluarkan air ?? 50 tahun, 100 tahun, ... dikeduk airnya dan habis. Maka air zam-zam ini terus-menerus mengeluarkan air!!?.
Rasulullah bersabda, "Air zam-zam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya" (HR. Ahmad.
Benar, aku mengetahui ini dengan sebenar-benarnya tentang kisah seorang laki-laki asal Yaman, aku mengenalnya dan dia adalah sahabatku, dia adalah orang yang sudah tua, pandangan matanya sudah melemah... karena sebab usianya yang sudah lanjut, hampir saja ia tidak bisa melihat ! Ia selalu membaca Al-Qur'an, dan dia sangat bersemangat untuk selalu membacanya... dia selalu memperbanyak membacanya, di sisinya ada mushaf kecil; mushhaf kecil itu serasa tidak ingin berpisah dengannya, akan tetapi karena melemahnya kekuatan matanya, apa yang harus ia perbuat?! Ia pun berkata, "Katanya air zam-zam itu bisa jadi obat, maka akupun mendatangi zam-zam itu, lalu aku pun mengambil dan meminumnya, tiba-tiba aku pun mulai bisa melihat kembali tulisan mushhaf." Aku melihat ia pun mengambil mushhaf kecilnya dari saku dan membacanya. Ia pun berkata, "Ini berkat aku meminum air zam-zam itu.
Maka, .... wahai saudara-saudaraku yang mulia. Ini adalah hadits Rasulullah. Akan tetapi do'a syaratnya adalah pelakunya harus yakin doanya akan dikabulkan; ia memenuhi perintah Allah; orang yang berdo'a memenuhi syarat sebagaimana firman Allah:
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب، أجيب الدعوة الداع إذا دعان، فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون (البقرة: 186)
Dan jika para hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat; Aku mengabulkan do'anya orang-orang yang berdoa, maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan mengimani Aku agar mereka mendapat bimbingan (Q.S. Al-Baqarah: 186)
Sumber: Anta Tas'al wa Syaikh Al-Zindani Yujib haula Al-I'jaz Al-Ilmiy fii Al-Qur'an wa Al-Sunnah
Yusriyah Sembuh dari Penyakit Mata Sebalah Kirinya setelah Minum Air Zam-Zam
Seorang ikhwah yang baru pulang dari haji bercerita. Kata dia, "Seorang ibu yang mulia namanya Yusriyah Abdurrahman Hiraz ikut bersama kami melakukan haji dalam rombongan Departemen Wakaf Mu'jizat yang terjadi karena barokah air zam-zam. Ia berkata, "Yusriyah pernah menderita penyakit mata yang disebabkan oleh bakteri nyamuk bertahun-tahun hingga menyebabkan migran (sakit kepala sebagian) sepanjang siang dan malam dan tidak mereda sedikitpun, ... sampai akhirnya mata kirinya tersebut tidak bisa melihat sama sekali karena adanya selaput putih di matanya. Maka ia pun pergi ke salah seorang dokter spesialis mata ternama. Tapi dokter tersebut mengatakan, "Tidak ada cara lain untuk menyembuhkan migran tersebut (sebagai efek sakit matanya) kecuali dengan menyuntik mata tersebut, akan tetapi itu pun akan berakibat kebutaan untuk selamanya.
Maka, Ny. Yusriyah semakin bertambah ketakutan mendengar perkataan dokter itu. Aan tetapi, ia adalah orang yang percaya benar dan merasa tenteram dengan rahmat Allah. Dan hal itu akan mendatangkan sebab pengobatan sakitnya, demikian seteah mendengar penegasan para dokter tentang sakit yang ia derita itu... Maka, ia pun berkeinginan untuk melakukan umrah, sehingga memungkinkan mendapat obat dan penawar langsung dari Allah di Baitullah Al-Haram.
Maka, ia pun datang ke Mekkah dan thawaf di Ka'bah -waktu itu belum ramai orang-orang besar demikian kata beliau- sehingga ia bisa mencium hajar aswad dan menyentuhkan matanya yang sakit padanya ... lalu ia pun pergi menuju air zam-zam dan meminum satu cangkir serta mencuci matanya dengan air zam-zam itu ... setelah itu, ia pun meneruskan sa'i, lalu kembali ke Ghandaq tempat ia memulai ihram.
Maka, aku menemuinya sekembalinya dari Ghandaq dan matanya yang sakit menjadi sehat sempurna, dan penyakit matanya pun hilang tanpa ada bekas sedikitpun.
Bagaimana mungkin penyakit bisa hilang (diangkat) tanpa ada operasi?? Dan, ... bagaimana mungkin pandangan matanya bisa kembali sehat seperti biasa tanpa diobati?? Dan ilmu kedokteran yang mengobati penderitaannya tidak mampu melakukan apapun, kecuali membenarkan keagungan Allah yang Maha Besar; bahwa ibu yang sakit ini, yang para dokter gagal membantu pengobatannya, telah diobati oleh Dzat Yang Maha Mengobati, ketika ia melakukan kunjungan ibada (Umrah), sebagaimana Rasululah kabarkan:
ماء زمزم لما شرب له، إن شربته تستشفي شفاك الله، وإن شربته لشبعك أشبعك الله - وإن شربته لقطع ظمئك قطعه الله، وهي هزمة جبريل وسقيا الله إسماعيل (رواه الدارقطني)
Air zam-zam tergantung niat orang yang meminumnya; jika engkau meniatkan dalam meminumnya untuk mengobatimu, maka Allah akan menyembuhkanmu; jika engkau niatkan agar engkau kenyang, maka Allah menjadikanmu kenyang; jika engkau meniatkannya untuk menghilangkan haus, maka Allah akan menghilangkan kehausanmu, dan zam-zam itu adalah cekungan yang dibuat oleh Jibril dan air yang mengalir yang Allah berikan kepada Ismail (HR. Daraquthni).
Keluarnya Batu Tanpa Operasi
Dan kisah seperti ini sert akisah-kisah lainnya pun kami pernah mendengarnya dari sahabat-sahabat kami, atau pun kami membacanya. Dan itu semua meskipun menunjukkan kepada sesuatu hal, akan tetapi itu menunjukkan atas benarnya perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sumur yang penuh barakah ini (zam-zam).
Yang mengisahkan cerita ini adalah Dr. Farouq 'Antar.
Beliau berkata, "Aku telah menderita kencing batu selama bertahun-tahun. Para dokter menyatakan tidak mampu mengeluarkannya kecuali dengan operasi. Akan tetapi aku mengurungkan niat operasi itu dua kali... kemudian aku aku berniat untuk melakukan umrah... , dan aku memohon kepada Allah agar memberikan kesembuhan kepadaku tanpa operasi.
Maka, Dr. Farouq pun pergi ke Mekkah, dan melakukan umrah di sana serta minum air zam-zam, mencium hajar aswad, sholat dua rakaat sebelum keluar dari Masjidil Haram, maka tiba-tiba ia merasakan sesuatu di kantung kemihnya, maka ia pun bergegas ke kamar kecil. Maka, ternyata sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, keluar batu yang lumayan besar, dan ia pun sembuh tanpa harus masuk ke ruang operasi.
Dan sungguh ketika keluarnya batu telah mengejutkan dirinya dan para dokter yang selalu mengikuti perkembangan kesehatannya.
Tulisan ini dikirim oleh akh Muhammad Luthfi salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah. Untuk menghubungi beliau bisa melewati e-mail: luthfi679@yahoo.com
Share:

Jumat, 03 Juli 2009

Rezeki Melalui Perkahwinan

Assalamualaikum.......... 

Berkahwin atau mendirikan rumah tangga merupakan salah satu daripada sunnah Rasulullah SAW. Manakala sunnah itu sendiri merupakan satu amalan yang dijanjikan balasan pahala terhadap orang yang melakukannya. Sabda Baginda yang bermaksud: Perkahwinan itu sunnahku. Sesiapa yang menolak sunnahku, maka dia bukan dari kalanganku.(Riwayat Bukhari) Hari ini sering kita melihat bahawa sesuatu perkahwinan itu menjadi perkara yang rumit dan menyusahkan. Mengapa perkara ini boleh terjadi? Ramai di antara kita yang beranggapan untuk berkahwin memerlukan kenderaan, memiliki rumah besar, wang yang banyak dan sebagainya. Cuba kita renungkan dan mengambil iktibar dari kisah yang berlaku lebih kurang 1,400 tahun dahulu yang boleh kita jadikan panduan hidup ini. Insya Allah. 

Pada suatu hari, Rasulullah SAW telah didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki ini mengaku dirinya seorang yang miskin. Kemudian ia meminta jalan keluar agar terlepas dari belengu kemiskinan. Tanpa berlenggah lagi, Rasulullah SAW terus menyuruh lelaki tersebut supaya berkahwin. Lelaki tersebut sangat gembira dengan saranan yang diberikan Rasulullah. Dengan keyakinan yang mantap, akhirnya lelaki itu berkahwin. Setelah sekian lama berkahwin, lelaki itu datang lagi kepada Rasulullah dan mengadukan nasibnya,
Ya Rasulullah! Aku telahpun berkahwin, tetapi masih dalam keadaan miskin. Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah?.
Kahwin lagi,jawab Rasulullah singkat. 
Si lelaki tersebut tidak banyak bertanya. Beliau mempercayai Rasulullah SAW sepenuhnya kerana tidak mungkin Rasulullah mahu menipu umatnya. Akhirnya lelaki itu berkahwin lagi dengan gadis lain. Namun beberapa waktu kemudian lelaki itu datang lagi kepada Rasulullah dan mengadukan masalahnya : Wahai Rasulullah, isteriku sudah dua pun dua orang, tapi aku masih tetap miskin, bagaimana ya Rasulullah...?keluh lelaki itu.
Kahwin lagi,jawab Rasulullah singkat.



Hati lelaki itu berasa senang apabila mendengar jawapan Rasulullah. Kemudian beliau berkahwin buat kali ketiga. Namun setelah beberapa lama, keadaan tetap juga belum berubah. Mulanya ia berasa malu untuk mengadu kepada Rasulullah, tapi apakan daya ia masih tetap miskin. Dengan berat hati, beliau menemui Rasulullah dan menyampaikan masalahnya. Wahai Rasulullah, engkau telah menyuruhku menikah untuk ketiga kalinya, tapi aku tetap miskin. Sekarang apa yang harus aku lakukan? , adu lelaki itu. 
Berkahwinlah lagi,kata Rasulullah. 
Akhirnya si lelaki itu menikah buat kali keempat. Ternyata benarlah segala kata-kata Rasulullah. Ternyata isteri keempatnya ini membawa keberkatan perkahwinan di dalam kehidupannya. Dengan kepandaiannya menenun, ia mengajar kemahiran tersebut kepada ketiga-tiga madunya. Akhirnya usaha tersebut mendatangkan keuntungan dan kekayaan. Perusahaan industrinya semakin maju dan mampu mencukupi keperluan rumahtangga lelaki itu serta isteri-isterinya. 

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Carilah rezeki dengan menikah(Riwayat Ibnu Abbas) 
Firman Allah SWT yang bermaksud: Dan kahwinilah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkahwin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surah an-Nur : 32) 

Dengan mengambil iktibar dan teladan dari kisah di atas, Insya Allah jika niat kita ikhlas dan murni serta tujuan berkahwin itu kerana Allah, tidak mustahil segala gejala-gejala sosial dapat dihindarkan. Dilema Suami dalam Memartabatkan Institusi Kekeluargaan Isteri Mengandung Diperiksa oleh Doktor Lelaki Kedamaian dan ketenangan hidup merupakan harapan setiap insan. Kemesraan dan kesefahaman antara suami isteri, membuahkan kerinduan yang mendalam. Jika kebahagiaan itu diganggu dengan duri-duri kehidupan yang menggores jiwa dan perasaan, secara perlahan kemesraan rumahtangga tersebut menjadi terhakis. Untuk menetapkan kebahagiaan rumahtangga dari hakisan, hindarilah sesuatu yang dapat menimbulkan kebimbangan dan keraguan dalam jiwa. Untuk itu pihak Darul Nu'man tertarik untuk menyampaikan mesej ini sebagai renungan ummah. Kemusykilan yang kami paparkan ini merupakan pertanyaan yang dilontarkan kepada pihak kami dalam internet. Kemudian panel kami menjawabnya dengan menggunakan pendekatan agama dan psikologi. Dari jawapan itu kami merasa tertarik untuk menyampaikan perkara ini kepada kita semua. 

Soalan: Ada suatu perkara yang selama ini mengganggu fikiran saya, dan bagi saya ia telah menjadi perkara yang SERIUS. Saya telah mempunyai empat orang anak, keempat-empat anak saya tersebut lahir melalui perawatan doktor lelaki. Semenjak dari pemeriksaan hinggalah sampai mereka lahir, doktor lelaki itulah yang melaksanakannya. Yang menjadi kemusykilan saya apakah pemeriksaan bulanan ketika mengandung yang dilakukan oleh doktor lelaki tersebut dengan memegang bahagian-bahagian aurat seperti perut dan sebagainya dikira sebagai darurat. Sedangkan ketika itu isteri saya bukan dalam keadaan sakit tapi dalam keadaan normal. 

Apakah hukumnya jika kita membiarkan perkara itu terjadi di depan kita sedangkan mungkin kita boleh mencari alternatif lain seperti mencari doktor pakar wanita ataupun bidan? Daripada, Keluarga Muslim K. L. 

Jawapan Penjelasan: Pada diri wanita ada ciri-ciri atau kriteria yang spesifik dan itu tidak dimiliki oleh lelaki, begitu pula sebaliknya. Apabila salah satu pihak meninggalkan kriteria yang telah ditetapkan Allah bererti ia telah meninggalkan fitrah dan merosak kudrat insaniah. Ada beberapa ketentuan dalam syariat Allah sehubungan kriteria yang dimiliki oleh wanita, oleh sebab itu berpegang teguhlah dengan syariat tersebut dan jangan perkenankan lelaki campur tangan dalam urusan dalaman jika tidak ingin dirugikan ataupun kehidupan fizikal dan kejiwaan wanita akan rosak. Syariat Darurat Secara syariat, wanita muslimah hendaklah menjaga dirinya dan auratnya dari dilihat orang lain, kerana jika perkara ini terjadi pasti akan menimbulkan fitnah. Secara fitrah baik lelaki ataupun wanita yang bukan muhrim bersentuhan pasti akan menimbulkan berahi dan getaran jiwa yang akan mendatangkan tekanan syahwat baik banyak mahupun sedikit. Inilah namanya nafsu yang pasti ada pada diri seorang lelaki ataupun wanita yang normal. Wanita mengandung ketika mengadakan pemeriksaan bulanan dengan doktor lelaki bukanlah tergolong dalam keadaan darurat, kerana ketika itu wanita tersebut bukan dalam keadaan sakit. Jika ia bukan dalam keadaan darurat sudah tentu hukumnya berdosa ketika seorang doktor lelaki menyentuh bahagian-bahagian tertentu tubuh wanita tersebut. Kedudukan darurat dalam Islam adalah jika sesuatu keadaan itu tidak ada pilihan lain, maka secara terpaksa atau harus kita melaksanakan sesuatu yang pada dasarnya bertentangan dengan ketetapan Allah. Umpamanya, memakan daging khinzir hukumnya haram, namun ketika dalam keadaan tidak ada sedikitpun makanan melainkan daging itu sahaja, sedangkan kita dalam keadaan kelaparan yang boleh membawa maut, maka hukumnya menjadi harus memakan daging tersebut sekadar mengelakkan dari mati. Pemeriksaan Bulanan Begitu juga halnya dalam masalah pemeriksaan bulanan, ia bukanlah dalam keadaan darurat, sebab masih ada cara lain atau alternatif lain untuk mencari doktor wanita ataupun bidan yang beragama Islam. Apatah lagi di negara kita sekarang ini mudah didapati doktor wanita, bahkan di hospital dan klinik kerajaan pun kebanyakan yang memeriksa wanita hamil terdiri dari doktor atau bidan wanita. Mengapa kita mesti mencari doktor lelaki jika hanya sekadar menginginkan kepakaran mereka disaat mengadakan pemeriksaan bulanan. Bahkan doktor wanita yang pakar sakit puan pun telah ramai di negara ini. Maka tidak timbullah istilah 'darurat' ketika mengadakan pemeriksaan bulanan dengan doktor lelaki bagi wanita hamil. Kecualilah ketika akan melahirkan, di mana wanita yang akan melahirkan tersebut memerlukan pembedahan dan perhatian yang serius dari ramai pihak. Maka ketika ini barulah boleh dipakai istilah darurat tersebut, kerana wanita yang ingin melahirkan itu tidak terfikir masalah lain, melainkan ingin selamat melahirkan anaknya. Aspek Psikologi Ditinjau dari aspek psikologi pun proses pemeriksaan bulanan yang dilakukan wanita hamil dengan doktor lelaki ini akan menimbulkan kesan yang jauh dan negatif dalam hubungan kekeluargaan. Bayangkan saja bagi seorang wanita yang selama ini hanya disentuh oleh suaminya, tentu akan merasa suatu getaran ketika lelaki lain menyentuhi tubuhnya. Rasa kelainan dan getaran inilah yang membenihkan suatu keinginan tertentu kepada yang lain selain suaminya, lebih-lebih lagi ketika mereka menghadapi masalah atau krisis rumahtangga. Perkara ini sepintas lalu nampaknya macam perkara biasa dan sederhana, namun dalam jangka masa panjang, kesannya sangat membahayakan minda dan jiwa isteri tadi serta suaminya juga. Dalam hal ini bagi doktor lelaki mungkin tidak merasakan apa-apa perasaan terhadap pesakitnya, disebabkan terlalu ramai pesakit yang dirawatnya setiap hari dan ini menjadikannya lali dengan keadaan tersebut. Namun bagi seorang wanita yang normal dan sihat, getaran di jantungnya pasti akan terasa dan getaran inilah yang dinamakan syahwat. Jika perkara ini terjadi bukanlah bererti setiap wanita yang hamil itu tidak baik atau wanita yang rendah moralnya, malah perkara ini membuktikan kenormalan wanita tersebut. Dalam hal ini kebijaksanaan suami sangat dituntut untuk melaksanakan tuntutan Islam agar isterinya mengadakan pemeriksaan bulanan dengan doktor wanita Islam sahaja. Menggerakkan Nafsu Syahwat Saya ingin membawa contoh yang sama dalam diri seorang lelaki. Bagaimanakah rasanya perasaan seorang lelaki jika bahagian tertentu tubuhnya disentuh oleh doktor wanita dengan nada bahasa yang lemah-lembut dan baik. Sebagai seorang lelaki yang normal, pasti dia akan merasakan getaran di jantungnya, kecualilah jika ketika itu ia betul-betul sakit (dalam keadaan darurat), sehingga tidak ada yang lain difikirkannya melainkan kesembuhan dari sakitnya itu. Begitu juga halnya dengan doktor wanita yang menyentuh pesakit lelaki mungkin merasa lali dengan situasi tersebut disebabkan propesi dan tanggungjawabnya sebagai seorang doktor. Keretakan Rumahtangga 

Fahamilah tentang kaedah batas-batas aurat bagi seorang wanita atau lelaki yang bukan muhrim. Jika perkara ini tidak diberi perhatian secara serius, lama kelamaan akan runtuhlah sendi institusi rumahtangga keluarga muslim. Seandainya seluruh umat Islam tidak mengambil berat tentang perkara ini, bukan saja institusi rumahtangga malah negara pun akan runtuh kerana kejatuhan nilai moral dan agama dalam kehidupan bangsa. Peliharalah diri dan keluarga kita agar kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat serta terhindar dari seksa api neraka. 


Tulisan ini dikirim oleh akh Muhammad Luthfi salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah. Untuk menghubungi beliau bisa melewati e-mail: luthfi679@yahoo.com
Share:

Rabu, 01 Juli 2009

Hadis sekitar salat..

1. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sholat berjemaah itu lebih afdal (baik) daripada sholat bersendirian dengan 27x derajat" H.R.Bukhari dan Muslim

2. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang sholat berjemaah kemudian duduk berzikir hingga terbit matahari kemudian sholat 2 rakaat (sunat dhuha) maka ia akan mendapat pahala haji dan umrah yang sempurna" H.R.Tarmizi

3. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang berjalan untuk sholat fardhu maka pahalanya seperti orang yang mengerjakan haji dan jika ia berjalan untuk sholat sunat maka pahalanya seperti orang yg mengerjakan umrah sunat" H.R.Attabrani

4. Rasulullah s.a.w bersabda : "2 rakaat sholat sunat fajar itu pahalanya lebih baik daripada dunia seisinya" H.R. Muslim & Tarmizi

5. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang sholat sunat sebelum Asar 4 rakaat maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka" H.R.Attabrani

6. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesungguhnya apabila seseorang hamba berdiri untuk sholat maka diletakkan semua dosa-dosanya diatas kepala dan kedua bahunya. Setiap kali ia rukuk atau sujud akan berjatuhlah dosa-dosanya itu" H.R.Attabrani

7. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang tetap mengerjakan sholat sunat sebelum dan selepas dhuhur sebanyak 4 rakaat maka Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka H.R.Abu Daud & Tarmizi

8. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang berwuduk dengan sempurna maka keluarlah dosa dari tubuhnya sehingga dari bawah kukunya juga" H.R.Muslim

9. Rasulullah s.a.w bersabda : "Malaikat akan berdoa untuk kamu selama kamu masih berada didalam masjid dan melakukan sholat dan selama kamu tidakberhadas. Berkata Malaikat "Ya Allah ampunilah dia dan turunkanlah RahmatMu kepadanya" H.R.Bukhari

10. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang sholat Isyak berjemaah maka bagaikan bangun (beribadah) ½ malam dan (pada esok paginya) ia mengerjakan sholat Subuh secara berjemaah juga maka (pahalanya) bagaikan bangun semalaman (penuh). H.R.Muslim & Ahmad

11. Rasulullah s.a.w bersabda : "Apabila kamu rasa ada angin didalam perutmu kemudian kamu ragu adakah ianya telah keluar atau belum, maka janganlah keluar dari sholatmu sehingga jelas terdengar bunyi atau tercium baunya" H.R.Muslim

12. Rasulullah s.a.w bersabda : "Tidak takutkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam (mengangkat kepalanya), kelak akan digantikan kepalanya dengan kepala kaldai" H.R.Sahih Muslim

13. Rasullulah s.a.w bersabda : "Sholat dengan bersiwak (mengosok gigi) lebih afdal (baik) dari 70x sholat tanpa siwak" H.R.Zanjawaih & Hakim

14. Rasullulah s.a.w bersabda : "Sholat sunat atau fardhu dengan memakai serban menyamai 25x sholat yang tidak memakai serban dan sholat jumaat dengan memakai serban menyamai 70x Jumaat tanpa memakai serban" H.R.Ibn'Asakir

15. Rasulullah s.a.w bersabda : "Malaikat senantiasa berdoa untuk kamu selama ia berada ditempat yang ia sholat padanya, selagi ia tidak berhadas" H.R.Bukhari & Muslim

16. Rasulullah s.a.w bersabda : "Apabila imam bangun dari rukuk serta membaca doa, maka hendaklah kamu membaca "Allahuma Rabbana lakalhamdu" kerana sesiapa yang berkebetulan bacaannya dengan bacaan Malaikat, niscaya diampunkan dosanya yang telah lalu" H.R.Bukhari & Muslim

17. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesungguhnya Allah memberi rahmat dan mailakatNya pula mendoakan bagi orang-orang yang sholat pada shaf yang pertama" H.R. Ahmad & Abu Daud

18. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang berwuduk padahal ia masih ada wuduk, maka dicatat untuknya sepuluh hasanat" H.R.Abu Dawud

19. Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesiapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia kafir terang-terangan" H.R.Attabrani

Tulisan ini dikirim oleh akh Muhammad Luthfi salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah. Untuk menghubungi beliau bisa melewati e-mail: luthfi679@yahoo.com



Share:

Selasa, 21 April 2009

EMPAT KUNCI MASUK SURGA

Rasululullah shallallahu'alaihiwasallam bercerita,

"سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِى الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ...". رواه مسلم في صحيحه (1/176 رقم 312) من حديث المغيرة بن شعبة رضي الله عنه. 

"(Suatu saat) Nabi Musa bertanya kepada Allah, ”Bagaimanakah keadaan penghuni surga yang paling rendah derajatnya?". Allah menjawab, "Seorang yang datang (ke surga) setelah seluruh penghuni surga dimasukkan ke dalamnya, lantas dikatakan padanya, "Masuklah ke surga!". "Bagaimana mungkin aku masuk ke dalamnya wahai Rabbi, padahal seluruh penghuni surga telah menempati tempatnya masing-masing dan mendapatkan bagian mereka" jawabnya. Allah berfirman, "Relakah engkau jika diberi kekayaan seperti raja-raja di dunia?". "Saya rela wahai Rabbi" jawabnya. Allah kembali berfirman, "Engkau akan Kukaruniai kekayaan seperti itu, ditambah seperti itu lagi, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu dan ditambah seperti itu lagi". Kelima kalinya orang itu menyahut, "Aku rela dengan itu wahai Rabbi". Allah kembali berfirman, "Itulah bagianmu ditambah sepuluh kali lipat darinya, plus semua yang engkau mauim serta apa yang indah di pandangan matamu". Orang tadi berkata, "Aku rela wahai Rabbi"…". HR. Muslim dalam Shahihnya (I/176 no 312) dari hadits al-Mughîrah bin Syu'bah radhiyallahu'anhu.

Seorang muslim yang mendengar hadits di atas atau yang semisal, ia akan semakin merindukan untuk meraih kemenangan masuk ke surga Allah kelak. Bagaimana tidak? Sedangkan orang yang paling rendah derajatnya di surga saja sedemikian mewah kenikmatan yang akan didapatkan di surga, lantas bagaimana dengan derajat yang di atasnya? Bagaimana pula dengan orang yang menempati derajat tertinggi di surga? Pendek kata mereka akan mendapatkan kenikmatan yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur'an

"فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ". السجدة : 17. 

Artinya: "Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka; yaitu (bermacam-macam kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". QS. As-Sajdah: 17.

Namun anehnya ternyata masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak ingin masuk surga, sebagaimana telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam dalam haditsnya,

"كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى" قَالُوا: "يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟" قَالَ: "مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى". رواه البخاري من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.

"Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan". Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?". Beliau menjawab, "Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)". HR. Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu'anhu.

Jadi tidak setiap yang mendambakan surga, kelak akan mendapatkannya; karena surga memiliki kunci untuk memasukinya; barang siapa yang berhasil meraihnya di dunia; niscaya ia akan merasakan manisnya kenikmatan surga kelak di akhirat, sebaliknya barang siapa yang gagal merengkuhnya; maka ia akan tenggelam dalam kesengsaraan siksaan neraka.

Kunci tersebut ada empat, yang secara ringkas adalah:
1. Ilmu.
2. Amal.
3. Dakwah.
4. Sabar.

Empat kunci ini telah Allah subhanahu wa ta'ala isyaratkan dalam surat al-'Ashr:

"وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ". العصر : 1-3.

Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang (1) beriman , (2) beramal shalih, (3) saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan (4) saling nasehat menasehati dalam kesabaran". QS. Al-'Ashr: 1-3.

Sedemikian agungnya surat ini, sampai-sampai Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas para hamba-Nya melainkan hanya surat ini; niscaya itu telah cukup" .

Berikut penjabaran ringkas, masing-masing dari empat kunci tersebut di atas:

Kunci Pertama: Ilmu:
Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, yaitu ilmu yang berlandaskan al-Qur'an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu'alaihiwasallam. 
Ilmu yang dibutuhkan oleh seorang insan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama, wajib hukumnya untuk dicari oleh setiap muslim dan muslimah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam dalam sabdanya,

$طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ# رواه ابن ماجه من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه وصححه الشيخ الألباني في تحقيقه على مشكاة المصابيح.

"Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim". HR. Ibnu Majah dari hadits Anas bin Mâlik ط, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam tahqiqnya atas Misykâh al-Mashâbîh.

Di antara beragam disiplin mata ilmu agama, yang seharusnya mendapatkan prioritas pertama dan utama untuk dipelajari dan didalami terlebih dahulu oleh setiap muslim adalah: ilmu tauhid. Karena itulah pondasi Islam dan inti dakwah seluruh rasul dan nabi. Allah ta'ala berfirman,

"وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ". النحل : 36.

Artinya: "Dan telah Kami utus seorang rasul di setiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut". QS. An-Nahl: 36.

Kunci Kedua: Amal:
'Perjalanan suci' seorang hamba setelah memiliki ilmu belum usai, namun masih ada 'fase sakral' yang menantinya; yaitu mengamalkan ilmu yang telah ia miliki tersebut. Ilmu hanyalah sarana yang mengantarkan kepada tujuan utama yaitu amal.

Demikianlah urutan yang ideal antara dua hal ini; ilmu dan amal. Sebelum seorang beramal ia harus memiliki ilmu tentang amalan yang akan ia kerjakan, begitupula jika kita telah memiliki ilmu, kita harus mengamalkan ilmu tersebut.

Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya akan dicap menyerupai orang-orang Yahudi, dan mereka merupakan golongan yang dimurkai oleh Allah ta'ala, sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak berlandaskan ilmu, mereka akan dicap menyerupai orang-orang Nasrani, dan merupakan golongan yang tersesat. Dua golongan ini Allah singgung dalam ayat terakhir surat al-Fatihah:

"اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ". الفاتحة : 6-7.

Artinya: "Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus. Yaitu jalan golongan yang engkau karuniai kenikmatan atas mereka, bukan (jalannya) golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat". QS. Al-Fatihah: 6-7.

Kunci Ketiga: Dakwah:
Setelah seorang hamba membekali dirinya dengan ilmu dan amal, dia memiliki kewajiban untuk 'melihat' kanan dan kirinya, peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Kepedulian itu ia apresiasikan dengan bentuk 'menularkan' dan mendakwahkan ilmu yang telah ia raih dan ia amalkan kepada orang lain.

Inilah fase ketiga yang seharusnya dititi oleh seorang muslim, setelah ia melewati dua fase di atas. Dia berusaha untuk mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada orang lain, terutama keluarganya terlebih dahulu, dalam rangka meneladani metode dakwah Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam yang Allah ceritakan dalam firman-Nya,

"وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ". الشعراء: 214.

Artinya: "Dan berilah peringatan (terlebih dahulu) kepada keluarga terdekatmu". QS. Asy-Syu'arâ': 214.

Tidak sepantasnya seorang da'i menyibukkan dirinya untuk mendakwahi orang lain di mana-mana lalu 'menterlantarkan' keluarganya sendiri; sebab sebelum ia 'mengurusi' orang lain, ia memiliki kewajiban untuk 'mengurusi' keluarganya terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta'ala dalam firman-Nya,

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً". التحريم: 6.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka". QS. At-Tahrîm: 6.

Dalam berdakwah terhadap keluarga maupun kepada orang lain, kita dituntut untuk senantiasa mengedepankan sikap hikmah, dalam rangka mengamalkan firman Allah ta'ala,

"ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ". النحل: 125.

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan jalan yang baik". QS. An-Nahl: 125.

Inilah kunci ketiga yang akan mengantarkan seorang hamba ke surga. Namun seseorang tidak dibenarkan untuk langsung meloncat ke fase ketiga ini (yakni dakwah) tanpa melalui dua fase sebelumnya (yakni ilmu dan amal); karena jika demikian halnya ia akan menjadi seorang yang sesat dan menyesatkan ataupun menjadi seorang yang amat dibenci oleh Allah ta'ala.

Mereka yang berdakwah tanpa ilmu, Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam sifati dalam sabdanya sebagai orang yang sesat dan menyesatkan,

"إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا". رواه البخاري ومسلم من حديث عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما، واللفظ للبخاري.

"Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama; hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan". HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin 'Amr radhiyallahu'anhuma, dengan redaksi Bukhari.

Sedangkan mereka yang berdakwah kemudian tidak mengamalkan apa yang didakwahkannya, Allah ta'ala cela dalam firman-Nya,

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ". الصف: 2-3.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika laian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan". QS. Ash-Shaff: 2-3.

Kunci Keempat: Sabar:
Kesabaran dibutuhkan oleh setiap muslim ketika ia mencari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya; karena tiga fase ini susah dan berat.
Proses pencarian ilmu membutuhkan semangat 'empat lima' dan kesungguhan, sebagaima disitir oleh Yahya bin Abi Katsir :, "Ilmu tidak akan didapat dengan santai-santai". 

Pengamalan ilmu juga membutuhkan kesabaran, karena hal itu merupakan salah satu jalan yang utama yang mengantarkan seorang hamba ke surga, dan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Dalam hadits shahih disebutkan,

"حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ". رواه مسلم من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه.

"(Jalan menuju ke) surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci (nafsu), sedangkan (jalan menuju ke) neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu". HR. Muslim dari hadits Anas bin Mâlik radhiyallahu'anhu.

Tidak ketinggalan, dakwah juga membutuhkan kesabaran, karena itu merupakan jalan yang dititi para rasul dan nabi. 

عن سعد رضي الله عنه قال: قُلْتُ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟" قَالَ: "الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ...". رواه الترمذي وقال حسن صحيح، وكذا قال الشيخ الألباني.

Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau shallallahu'alaihiwasallam menjawab, "Para nabi lalu mereka yang memiliki keutamaan yang tinggi, lalu yang di bawah mereka…". HR. Tirmidzi dan beliau berkata, "Hasan shahih", demikian pula komentar Syaikh al-Albani.

Inilah empat kunci masuk surga, semoga Allah ta'ala melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua untuk bisa meraihnya, amin.

Wallahu ta'ala a'lam. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Kota Nabi shallallahu'alaihiwasallam, 10 Muharram 1430 H / 7 Januari 2009M
Abdullah Zaen


Daftar Pustaka:
1. Al-Qur'an dan Terjemahannya.
2. Kitab al-'Ilm, karya al-'Utsaimîn.
3. Misykâh al-Mashâbîh, karya at-Tibrîzî..
4. Shahih Bukhari.
5. Shahih Muslim.
6. Sunan Ibn Mâjah.
7. Sunan Tirmîdzi.
8. Tafsir al-Imam asy-Syafi'i, dihimpun oleh Dr. Ahmad bin Mushthafa al-Farrân.



Share:

Rabu, 01 April 2009

Tulisan Pertama

Assalamualaikum...

Dengan ini, tepat tanggal 1 April 2009, ikpmmadinah.blogspot.com dengan persetujuan para ikhwan di IKPM madinah meresmikan blog ini dengan tulisan ini.

Blog ini adalah resmi milik IKPM Cabang Madinah, Kerajaan Saudi Arabia.

Untuk alamat surat menyurat, anda bisa menghubungi kami lewat e-mail resmi kami di: ikpmmadinah@yahoo.com. Sedangkan alamat situs resmi kami adalah www.ikpmmadinah.blogspot.com.

Semoga bermanfaat!!
Share:

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Pesan Dan Nasehat Dalam Acara Silaturahim IKPM Dengan Bapak Pimpinan Gontor Beserta Rombongan Umroh Ramadhan Gontor

Alhamdulillah sebuah kesyukruan dapat bercengkrama dengan Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Syamsul Hadi Abdan yang se...