Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Kamis, 23 Februari 2012

Ketika Tauhid dan Akhlak Bersatu

Oleh: Abu Nizar


Mengutamakan tauhid adalah perkara utama, namun jika kurang memperhatikan akhlak, akan muncul dampak yang kurang mengenakkan. Terkadang juga akan muncul selentingan orang awam bagi pelakunya seperti ini: “Agamanya bagus tapi kurang ajar ama orang tua,” atau “Ngerti agama tapi ama tetangga nggak peduli,” atau yang lainnya.
Di sisi lain ada sebagian orang yang mengutamakan akhlak tetapi kurang memahami makna tauhid, sehingga terjadi salah paham terhadap syariat agama. Dua fenomena yang saling bertentangan ini, hendaknya menuntut kita untuk mempelajari makna tauhid lebih luas serta membenahi akhlak semaksimal mungkin.
Akhlak bagaikan mahkota yang tidak terlihat secara kasat mata tetapi terlihat oleh mata hati. Seburuk apapun wajah dan tubuh seseorang, jika diiringi dengan akhlak mulia, kekurangannya itu akan redup. Sebaliknya, setampan apapun wajah atau sebagus apapun penampilannya, jika akhlaknya buruk, orang sinis melihatnya.
Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam telah berungkali menggambarkan keutamaan akhlak mulia seperti dalam hadis berikut:
عن أبي هريرة قال: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الجَنَّةَ، فَقَالَ: «تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ»
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang sifat yang paling dominan memasukkan manusia ke syurga. Beliau menjawab : “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (H.R. Tirmidzi).
Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu ini juga bernada sama:
أَثْقَلُ شَيْءٍ فِي الْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُلُقٌ حَسَنٌ
“Sesuatu yang paling berat timbangannya pada hari kiamat nanti ialah akhlak yang baik.” (H.R. Ahmad).
عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
Jabir radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan bahwa Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat majelisnya denganku di antaramu pada hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (H.R. Ahmad).
Inti hadis – hadis tersebut adalah akhlak baik mempunyai kedudukan tinggi. Ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan dengan selera individu atau adat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya. Sebagai umat muslim, panutan yang wajib diikuti adalah Rasulullah karena beliau mempunyai akhlak yang agung.
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar – benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam: 4)
Maka pantas jika Allah menjadikan beliau sebagai contoh teladan bagi umatnya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al Ahzab: 21).
                Inilah salah satu konsekuensi dari dua syahadat dan rukun iman yaitu mengikuti apa yang diperintah Rasul dan menjauhi apa yang dilarang beliau. Termasuk perintah beliau adalah membiasakan diri dengan akhlak terpuji dan larangan bermuamalah dengan akhlak tercela.
                Memang benar tauhid adalah inti ajaran Islam, tapi meski demikian kita tidak boleh mengabaikan akhlak, karena Islam sangat memperhatikan akhlak dan ia telah menjadi tolak ukur aqidah atau keimanan seseorang. Semakin baik akhlaknya semakin bertambah pula keimanannya, dan juga sebaliknya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya”. (H.R. Tirmidzi)
 Selain itu, berakhlak mulia termasuk cara jitu dalam berdakwah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Dan sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (H.R. Ahmad)
Rasulullah diutus untuk membawa risalah tauhid dan dengan akhlak beliau Islam berjaya. Tauhid mengajarkan arti iman kepada Allah dan akhlak adalah cara mengungkapkan kalimat tauhid. Bukankah ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah Aisyah radhiyallu ‘anha menjawab:
كَانَ خُلُقُهٌ القُرآنَ
“Akhlak beliau adalah Al Quran”
Beliau berakhlak mulia dengan Al Quran, dengannya beliau mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Terlebih lagi semua ayat Al-Quran mengandung unsur tauhid sebagaimana pernyataan ulama Ibnul Qoyim di dalam kitabnya Madaarijus saalikiin.
Maka sepantasnya seorang muslim tidak memilah antara tauhid dan akhlak, keduanya merupakan satu kesatuan yang harus dijalani bersama dalam diri seorang hamba Allah. Berapa banyak orang yang kagum lalu dengan senang hati ikut bersama Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam karena keindahan akhlaknya. Sungguh alangkah indahnya bertauhid benar disertai akhlak yang mulia.
Share:

1 komentar:

  1. SubhanaLlah... mohon izin copas ya Ustadz. JazakumuLlah

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda!


Cari Blog Ini

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Pimpinan Pondok Menyampaikan Pidato Kepondok Modernan pada Acara Silaturahmi IKPM Madinah dengan Jamaah Umroh Gontor

KH. Syamsul Hadi Abdan menyampaikan pidatonya di hadapan para hadirin IKPMMADINAH.COM, IKPM Madinah mengadakan pertemuan dengan Pim...

Google+ Followers