Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Minggu, 17 Maret 2013

Seorang yang Melampaui Batas Diampuni oleh Allah Karena Kemuliaan Akhlaknya


Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi


Telah Rasulullah ceritakan tentang seseorang dari kalangan ahli tauhid, pada hari kiamat telah terhapus seluruh kebaikannya disebabkan oleh banyaknya maksiat. Tetapi kemudian Allah mengampuninya karena salah satu dari akhlaknya adalah ia mempermudah pelanggan dan orang yang berhutang padanya serta memaafkan mereka. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Nasa’I –dengan lafadznya- dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya terdapat seorang lelaki yang belum pernah melakukan satu kebaikan pun. Ia bekerja dengan memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia selalu berpesan kepada pegawai penagihnya, ‘Ambil saja yang mampu dilunasi, biarkan yang tidak disanggupi dan maafkanlah! Semoga Allah mengampuni kita.’ Ketika ia meninggal, Allah berfirman kepadanya, ‘Pernahkah engkau mengerjakan sebuah kebaikan?’ ‘Tidak ya Allah! Kecuali satu, yaitu aku mempunyai seorang pegawai dan pekerjaanku adalah memberikan pinjaman kepada orang-orang. Setiap kali aku utus ia untuk menagih, aku berpesan padanya, ‘Ambil saja yang mampu dilunasi, biarkan yang tidak disanggupi dan maafkanlah! Semoga Allah mengampuni kita’ maka Allah ta’ala berfirman padanya, ‘Aku telah mengampunimu’.” Dan dalam sebuah riwayat Imam Muslim dari Abi Mas’ud, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘Kami lebih berhak dalam hal itu, ampunkanlah ia”.


AKHLAK NABI YANG MULIA

Untuk menjelaskan akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Rasulullah tidak pernah memukul apapun dengan tangannya baik wanita maupun pembantunya kecuali ketika beliau sedang berjihad di jalan Allah. Tidak pernah beliau disakiti orang kemudian beliau membalas orang tersebut, kecuali jika larangan-larangan Allah dilanggar. Maka, beliau akan membalasnya karena Allah”.

Inilah akhlak beliau kepada orang-orang yang lemah seperti wanita dan pembantu. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu  berkata, “Aku menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah! Tidak pernah sekalipun beliau mengatakan ‘ah!’ padaku dan tidak pernah sekalipun ketika terjadi sesuatu beliau berkata, ’Kenapa kau lakukan ini? Dan kenapa tidak kau lakukan itu?’".

Dan inilah akhlak beliau kepada anak kecil. Diriwayatkan oleh Imam Muslim [no. 2310] dari Anas juga bahwa ia berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau menyuruhku pergi untuk suatu keperluan, tapi aku berkata, ‘Demi Allah! Aku tidak mau pergi’ padahal dalam hati aku hendak pergi mengerjakan keperluan yang beliau suruh. Aku kemudian keluar. Ketika aku melewati beberapa anak kecil yang sedang bermain di pasar, tiba-tiba Rasulullah memegang pundakku dari belakang. Aku melihat pada beliau dan beliau tertawa. Kemudian beliau bersabda, “Hai Anas kecil! Apakah kau sudah pergi mengerjakan apa yang aku perintahkan?” ‘Ya wahai rasul! Aku akan pergi mengerjakan apa yang engkau perintahkan’, jawabku. Anas berkata, “Demi Allah! Aku telah melayani beliau selama sembilan tahun. Tidak pernah sekalipun ketika aku melakukan sesuatu beliau berkata, ’Kenapa kau lakukan ini dan itu?’ atau ketika aku tidak melakukan sesuatu beliau berkata, ‘kenapa tidak kau lakukan ini dan itu?’.”

Inilah akhlak yang tidak sanggup dilakukan kecuali oleh seorang nabi! Kalau tidak, tunjukkan peradaban mana, sejak Allah ciptakan manusia, yang pembesarnya memperlakukan pembantu dan para wanita seperti ini! Lalu adakah yang bergaul dengan seseorang selama setahun dan belum pernah mendengar kata-kata ‘ah!’ darinya sepuluh kali saja? Dua orang lelaki berada dalam kasih sayang yang besar dan persaudaraan yang lama, ketika keduanya berada dalam suatu perjalanan, keduanya pulang dengan hati yang tidak seperti sebelumnya. Maka Allahlah tempat kita meminta pertolongan.

Ya Allah! Sebagaimana telah engkau perindah rupa kami, perindahlah pula akhlak kami. Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.

Share:

Kepribadian Seseorang akan Tersingkap saat Berada di Rumahnya (Bag. 2)

Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi

Kebanyakan orang ketika berada di luar rumah akan bersopan santun dengan orang lain, karena sedikitnya pergaulan akan menciptakan pembatas kehormatan dan wibawa. Tetapi lamanya bergaul akan memecah pembatas ini, maka seseorang akan lebih berterus terang kepada temannya daripada sebelumnya, dan ketika semakin berterus terang akan semakin tampak kenyataan dan hakikatnya.

Pembahasan ini sesuai dengan hadits riwayat Abdullah bin Amru radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik teman disisi Allah adalah yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya” (HR Tirmidzi [no. 1944] dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Karena teman dan tetangga serupa dengan keluarga dalam hal pergaulan, kebersamaan, dan pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi darinya, maka kebaikan dirinya adalah hasil dari kesabaran hubungannya dengan mereka. Mereka tidak akan memujinya kecuali mereka telah melihat kemuliaan akhlaknya serta baiknya perlakuan dirinya. Maka hal ini kembali pada bahwa seseorang tidak akan dapat dikenal hakikatnya kecuali setelah berinteraksi dengannya. Hal ini tidak mudah terjadi pada orang lain sebagaimana hal tersebut mudah terjadi pada keluarganya sendiri, tetangganya, dan teman dekatnya.

Ada orang yang pemalu dan bersifat lemah, serta tidak dapat bersabar terhadap penderitaan, maka ia hidup menyendiri dari lingkungannya. Orang-orang mengira dirinya adalah seorang yang pemalu, tidak berpengalaman, murah hati dan pendiam yang tidak pernah berghibah dan menzalimi orang lain. Hanya saja, bersama keluarga dan orang yang mengenal dirinya di rumah, ia amat kejam. Apa yang membuatnya tidak menampakkan sifat aslinya adalah lemahnya ia dalam menghadapi orang asing. Dan yang membuatnya lebih kejam dan lebih memelihara kekerasan dan kekasarannya ialah jauhnya ia dari orang lain. Orang jenis ini hampir tidak dapat dikenali kecuali di rumahnya dan pada saat ia diuji. Seperti saat perjalanan yang biasanya meluruhkan akhlak seseorang ataupun saat berhadapan dengan harta yang diinginkan oleh banyak orang, ataupun dalam bertetangga.

Pembahasan ini sangatlah urgen. Kejiwaan manusia yang dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tersebut tidak dapat ditemukan definisinya oleh para peneliti karakter dari kalangan spesialis pendidikan dan kebudayaan tinggi setinggi apapun ijazah mereka. Umat manusia harus menempuh waktu yang lama dan berbagai macam percobaan untuk mencapai kaedah-kaedah kepribadian, yang kadang-kadang menghasilkan kaedah yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Akan tetapi jika engkau mengerti, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang ummiy dapat menyimpulkan hakikat tentang hal ini dalam sebuah kalimat, contohnya hadits ini. Hal ini tidak disadari oleh seorang pun kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Karena perkataan beliau adalah wahyu dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan ini merupakan salah satu bukti kebenaran akan kenabian beliau shallallahu alaihi wasallam.

Share:

Sabtu, 16 Maret 2013

Kepribadian Seseorang akan Tersingkap saat Berada di Rumahnya (Bag. 1)

Oleh : Syeikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhony-hafidzohullah-
Penerjemah: Hedi Kurniadi

Dari ummil mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, ia berkata: bahwasannya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: 
خيركم خيركم لأهله, وأنا خيركم لأهلي )) )) 
‘’Sebaik-baik dari kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan diantara kalian Akulah orang yang paling baik terhadap keluargaku” [diriwayatkan oleh Tirmidzi (3895), Ibnu Majah (1977) dari sahabat Ibnu ‘Abbas- radhiyallahu ‘anhuma-,  dishahihkan oleh Al-Albany dalam ‘As-Silsilah Ash-Shohihah (285)].

Sesungguhnya hakikat kepribadian seseorang itu lebih mudah diketahui saat ia berada di rumahnya dari pada di luar. Ini merupakan sebuah kaidah yang tidak dapat dipungkiri, rahasianya adalah bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk bersandiwara bersikap baik saat di luar rumah dan mampu bertahan di atas kepalsuan itu. Demikian itu dikarenakan interaksinya dengan orang lain di luar rumah memakan waktu yang relatif singkat, dengan orang pertama setengah jam, lalu dengan orang yang kedua satu jam, dengan orang ketiga lebih singkat atau bahkan lebih lama. Mereka semua bisa ia pergauli dengan sikap yang direkayasa dan watak yang didramatisir, bukan dengan kepribadiannya sendiri.

Layaknya yang dilakukan oleh sebagian buruh atau pegawai, mereka terbiasa menampakkan sikap dan akhlak yang baik serta  menyembunyikan kepandiran dan kebodohan, akan tetapi tatkala berada di dalam rumah ia tidak mampu menyisakan sedikit pun dari kepribadian yang memang tidak sesuai dengan realita sepanjang hayatnya. Sebab ia harus menahan diri dari perdebatan batinnya, sampai ia kembali pada watak semula yang  tidak ada beban di dalamnya. Pepatah mengatakan: “tabiat mengalahkan sandiwara”.
Lain halnya dengan beban yang sementara, maka mereka sanggup memikulnya. Sebagaimana yang dilakoni oleh sebagian orang-orang fasiq jika hendak meminang seorang perempuan, sekian lama mereka pacaran dan menjalin hubungan, dengan menampakkan sisi kebaikan dan menyembunyikan sisi lain dari kejelekannya.

Sekiranya Allah menjadikan mereka sepasang suami istri, maka akan tersingkap kedua watak aslinya. Mayoritas pasangan suami istri yang menikah dengan gaya barat yang melenceng dari ajaran Islam seperti ini, merupakan pernikahan yang dibina di atas kecurangan dan penipuan, sehingga terjadilah perceraian dengan berbagai macam motif kejahatan.

Akhlak seseorang yang sesungguhnya akan terungkap saat berada di dalam rumah. Di sanalah kelembutannya akan tampak dari kekasaran tutur katanya, kedermawan dari kekikirannya, kehati-hatian dari kecerobohannya, bagaimana ia bersikap terhadap ibu bapaknya? Alangkah dahsyatnya kedurhakaan pada saat ini! Bagaimana ia berinteraksi dengan saudara-saudaranya? Aduhai betapa kasarnya tutur kata  pada zaman ini! Fenomena seperti ini dikarenakan kebersamaan dalam ruang lingkup keluarga sejatinya membuahkan kenyataan yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, cari tahulah siapa dirimu sebenarnya saat engkau berada di rumah. Bagaimana kesabaranmu terhadap anak-anakmu, terhadap istrimu? bagaimana kesanggupanmu dalam memikul tanggungjawab rumah tangga?

Lantas bagaimana mungkin seseorang bisa memperbaiki keadaan umat jika rumah tangganya sendiri tidak bisa ia perbaiki?

Inilah rahasia sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, ”sebaik-baik dari kalian ialah yang paling baik terhadap keluarganya”.  
Share:

Keutamaan Akhlak Mulia

Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi

Allah subhanahu wa ta'ala telah menganjurkan hambaNya untuk berakhlak mulia dalam banyak ayat-ayat Al Qur’an dan Dia janjikan imbalan yang besar berupa surge dan ampunan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kalimat yang elok nan menggelora, “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang bersedekah dalam keadaan makmur maupun sengsara, mereka yang mampu menahan amarah dan mereka yang suka memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imran 133-134).

Allah juga memuji sifat sabar, jujur dan suka memberi nafkah dalam firmanNya, “Para penyabar, orang-orang yang jujur, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan mereka yang memohon ampunan di waktu sahur” (QS Ali Imran 17). 

Dia memuji pula sifat rendah hati, memaafkan lawan dan menjaga lisan dalam firmanNya, “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang adalah mereka yang berjalan di atas bumi dengan sifat rendah hati, apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan perkataan yang baik” (QS Al Furqan 64), kemudian firmanNya, “Orang-orang yang tidak memberi persaksian palsu dan bila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan tak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS Al Furqan 72).

Dia menceritakan pula kisah dua anak Adam, yang satunya berkata kepada saudaranya, “Sungguh jika engkau ulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan sekali-kali mengulurkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan alam semesta” (QS Al Maidah 28).

Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam alaihi wasallam juga menganjurkan umatnya dengan tegas untuk berakhlak mulia dan beliau sangat sering menganjurkan hal ini, sampai-sampai ketika ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, hal terbaik apakah yang dianugerahkan pada manusia?” “Kemuliaan akhlak,” jawabbeliau. (HR IbnuMajah [no. 3436] dan disahihkan oleh Al-Albani).

Beliau menerangkan tentang hal yang baik di dunia maupun akhirat dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam alaihi wa sallam bersabda kepada beliau, “Sesungguhnya siapa yang diberikan jatah keramahan, dia telah diberikan jatah kebaikan dunia dan akhirat. Menyambungkan tali silaturrahim, akhlak mulia dan bertetangga dengan baik akan meramaikan rumah tangga dan memperpanjang umur” (HR Ahmad [6/159] dengan sanad yang sahih).

Beliau menerangkan pula tentang timbangan yang paling berat di antara seluruh amalan dalam sabdanya, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada kemuliaan akhlak, sesungguhnya pemilik akhlak mulia akan mencapai derajat orang-orang yang rajin shalat dan puasa” (HR Abu Daud [no. 4799] danTirmidzi [no. 2003] dengan lafadznya. Hadits ini disahihkan oleh Al-Albani dalam As Silsilah As Sahihah[876]).

Bisa jadi seseorang tidak diberi kemampuan untuk melakukan banyak amalan seperti lamanya bangun malam dan banyaknya puasa sebagaimana kemampuan ahli ibadah yang zuhud, tetapi bila ia dikenal orang dengan kehalusan budi bahasanya, kelembutan wataknya serta kerendahan hatinya, ia akan setara derajatnya dengan para ahli ibadah yang zuhud tersebut. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam alaihi wasallam bersabda, “Sungguh seorang mukmin dengan kemuliaan akhlaknya akan mencapai derajat orang yang sering berpuasa dan bangunmalam” (HR Abu Daud [no. 4798] dan disahihkan oleh Al-Albani).

Share:

Malaikat dekat dengan Orang yang Berbudi Mulia dan Setan akan Menjauh darinya


Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi

Inilah kelebihan besar yang dimiliki seorang yang berbudi mulia, karena setan menjauh darinya, berarti ia terhindar dari perbuatan buruk. Dan dekatnya mereka dengan malaikat, berarti ia dekat dengan perbuatan baik. Di dalam hadits telah disebutkan tentang hal ini, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seseorang menghina Abu Bakar radhiyallahu anhu, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di dekatnya, Nabi pun terkejut dan tersenyum. Ketika orang ini semakin menjadi-jadi, Abu Bakar membantahnya. Nabi pun langsung marah dan berdiri. Maka Abu Bakar langsung menyusul beliau sambil berujar, “Wahai Rasulullah! Ketika orang ini menghinaku engkau tetap duduk. Mengapa ketika aku membantahnya, engkau malah marah kemudian pergi?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ada malaikat yang membelamu. Ketika engkau malah membantah orang ini, datanglah setan. Dan aku tidak mau duduk bersama dengan setan.” Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai Abu Bakar! Ada tiga kebenaran. Yang pertama: ketika seorang hamba dizhalimi tetapi ia tidak membalasnya karena Allah, Allah akan menguatkan dan menolongnya. Yang kedua: ketika seorang hamba membuka pintu untuk memberi dengan maksud rela berbagi, Allah akan menambah hartanya menjadi banyak. Yang ketiga: ketika seorang hamba membuka pintu untuk mengemis dengan maksud untuk mendapatkan harta banyak, Allah akan mengurangi hartanya menjadi sedikit” (HR Ahmad [2/436] dan Abu Daud [4896-4897] dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As Silsilah As Shahihah [2231]).
            
Orang yang pertama memahami sesuai dengan pemahaman nabi yang hebat ini adalah Khadijah radhiyallahu anha, yaitu ketika diutusnya Nabi setelah didatangi oleh malaikat Jibril pertama kali. Ketika itu, Nabi masih khawatir dengan risalah yang dibawakan kepadanya dan beliau belum meyakini bahwa yang mendatanginya adalah malaikat. Disebutkan dalam kitab shahihain dalam riwayat Aisyah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bercerita, “Wahai Khadijah! ada apa dengan diriku?” beliau memberitahu Khadijah apa yang terjadi dan berkata, “Aku benar-benar khawatir akan diriku”, “Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakan engkau. Demi Allah, engkaulah yang menyambung silaturrahim, selalu jujur dalam berkata, selalu membantu orang yang lemah, selalu mencari orang yang hilang, selalu menjamu tamu dan selalu menolong musibah yang benar”, hibur Khadijah.
            
Renungkanlah bagaimana beliau radhiyallahu 'anha menjadikan akhlak tersebut sebagai tameng bagi Nabi dari tipu daya dan malapetaka setan. Dan beliau mendapatkan tanda-tanda bahwa apa yang dibawa oleh Nabi adalah wahyu dari Allah bukan tipu daya setan. Hal tersebut karena Nabi bukanlah seorang yang penipu dan pendosa.
            
Karena sang manusia utusan adalah seorang yang terpercaya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, maka yang turun kepadanya adalah malaikat utusan yang terpercaya pula, yang membawa wahyu Tuhan alam semesta yaitu Jibril alaihis salam
Sebagaimana tertera dalam firman Allah ta’ala: 
“Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa oleh ar-ruh al-amin (ruh yang terpercaya-Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu termasuk orang-orang yang memberi peringatan” (QS Asy Syuara’ 192-194). 
Karena sang manusia utusan adalah hamba yang mulia sebagaimana firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar wahyu(kepada) Rasul yang mulia. Dan ia bukanlah perkataan seorang pujangga” (QS Al Haqqah 40-41). Maka, yang turun kepadanya adalah malaikat utusan yang mulia pula, yang membawa wahyu Tuhan alam semesta yaitu Jibril alaihis salamSebagaimana tertera dalam firman Allah ta’ala: 
“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘arsy” (QS At Takwir 19-20).
            
Dan selanjutnya, para salaf dapat mengenal kebohongan orang yang mengaku nabi hanya karena orang tersebut telah terkenal dengan kebohongannya. Karena kebohongan adalah pangkal kesalahan mental dan kesalahan lainnya, sebagaimana disebutkan dalam kitab shahihain, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kedustaan membawa pada kejahatan”. Juga karena setan adalah sang maha pendusta, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Hurairah setelah ia didatangi setan yang mencuri, “Dia berkata jujur padamu, padahal sebetulnya ia adalah pendusta”. Maka sudah pasti komandan para pendusta dan pendosa, yaitu setan, selalu terhubung dengan para manusia pendusta dan pendosa. Seperti kisah Mukhtar bin Abi Ubaid si pendusta, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Ibnu Katsir dengan sanadnya dari Abu Zumail, “Aku sedang duduk bersama Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, lalu datanglah Mukhtar bin Abi Ubaid, kemudian seorang lelaki datang sambil berujar, “Hai Ibnu Abbas! Abu Ishaq (Mukhtar) ini mengaku bahwa ia mendapatkan wahyu malam tadi". “Betul”, jawab Ibnu Abbas. Aku pun bangkit dan berujar, “Bagaimana mungkin Ibnu Abbas mengatakan dia benar?” Ibnu Abbas menjawab, “Wahyu itu ada 2 macam: wahyu Allah dan wahyu setan. Wahyu Allah diturunkan kepada Muhammad, sedangkan wahyu setan diturunkan kepada pengikut-pengikutnya” Kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya setan itu berwahyu (membisikkan) kepada pengikut-pengikutnya” (QS Al An’am 121).
Share:

Orang yang Berbudi Luhur akan Dekat Kedudukannya dengan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam

Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi
           
Ketika seorang mukmin terus berusaha memperbaiki budi pekertinya, kedudukannya akan berada sedekat-dekatnya dengan Rasulullah pada hari kiamat, karena beliau shallallahu alaihi wasallam mencintai orang yang berbudi pekerti luhur. Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang berbudi baik dari kalian. Sedangkan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat adalah para tsartsarun (penceloteh), mutasyaddiqun (orang-orang yang bermulut besar) dan para mutafaihiqun (orang-orang yang berlagak)”, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui bagaimana para penceloteh dan orang-orang yang besar mulut, bagaimanakah rupanya para mutafaihiqun?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang menyombongkan diri” (HR Tirmidzi [no. 2018] dan disahihkan oleh Al-Albani). Imam Tirmidzi menerangkan, “Berceloteh adalah banyak bicara. Bermulut besar adalah suka memperpanjang perkataan dan berkata kotor”. Berkata kotor artinya berkata-kata dengan perkataan keji nan kotor. Kalau seandainya penjabaran tentang budi pekerti hanya sebatas yang tertera dalam hadits di atas, maka sudah sangat cukup karena mendapatkan cinta Rasulullah dan kedudukannya dekat dengan beliau adalah suatu hal yang amat penting! Jikalau pembaca yang budiman memahami pembahasan pada bab yang lalu bahwa Rasulullah menjadi sahabat bagi Abu Bakar, seseorang yang mulia budi pekertinya. Ketika beliau radhiyallahu anhu sedikit menurun budinya, maka Rasul menjauhinya meskipun beliau tidak sampai berbuat dosa. Dengan ini, pembaca yang budiman akan tahu rahasia dekatnya orang-orang yang berbudi luhur dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Wabillahi at-taufiq.
            

Pembahasan tentang keutamaan budi pekerti mulia amatlah luas, tapi cukup saya mengingatkan kaum mukminin sekalian dengan sebagian saja dari pembahasan tersebut hingga mereka memperoleh faedah dan yang lalai menjadi sadar. Maka seyogyanya seorang mukmin melihat pada dirinya sudahkah ia berlemah lembut kepada orang lain seraya bermuka cerah nan riang? Kalau sudah, orang-orang akan tenang bersamanya, senang bergaul dengannya, menikmati berada di sampingnya, berlomba-lomba untuk menemaninya dalam perjalanan, mereka akan menentramkan ia dari gundah gulana sebagaimana yang mereka lakukan terhadap diri dan harta mereka sendiri. Jual belinya disertai kemurahan hati, perbincangannya selalu benar, janjinya selalu ditepati, perkataannya selalu baik, tangannya tidak pernah berbuat jahat, matanya terhindar dari khianat, menyalami pembantunya layaknya menyalami atasannya, cerah raut wajah yang ia tampakkan kepada orang-orang yang tak dikenal seperti ia menampakkanya kepada orang-orang dekatnya, kedengkian hatinya tercerabut, selalu berprasangka baik pada teman-temannya dan teman-temannya akan mempercayai dirinya. Allah ta’ala berfirman, “dan orang-orang mukmin lelaki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari kemungkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At Taubah 71), hendaklah kalian berbudi pekerti dengan budi pekerti yang diterangkan tadi sebisa mungkin agar kalian mendapatkan rahmat tersebut. “Merekalah orang-orang yang akan dirahmati oleh Allah”, karena mereka yang mengasihi orang lain akan dirahmati. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Para pengasih akan dikasihi oleh Allah Sang Maha Pengasih, kasihilah penduduk bumi kalian akan dikasihi oleh penduduk langit” (HR Daud [no. 4941] dan Tirmidzi [no. 1924], hadits ini disahihkan oleh              Al- Albani dalam As Silsilah As Sahihah).
Share:

Kejahatan-Kejahatan Setan

Oleh: Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah
Penerjemah: Haikal Alghomam Suhardi

Salah satu dari kejahatan setan adalah ia merupakan pencuri yang mencuri harta manusia. Setiap makanan dan minuman yang tidak disebutkan nama Allah padanya mempunyai jatah untuk dicuri dan dirampas. Demikian pula, setan bermalam di rumah yang tidak disebutkan di dalamnya nama Allah, kemudian ia memakan makanan manusia tanpa izin mereka, serta bermalam di rumah mereka tanpa izin mereka. Ia masuk untuk mencuri dan keluar dengan menyerbu. Ia singkapkan aurat mereka. Ia perintahkan manusia untuk bermaksiat kemudian setan menjadikan dalam hatinya kesadaran dan mimpi bahwa ia telah mengerjakan ini dan itu.

Seorang hamba ketika berbuat maksiat, tidak ada seorang pun yang melihatnya, akan tetapi esoknya orang-orang membicarakan dirinya. Inilah perbuatan setan yang menjadikan si hamba memandang baik perbuatannya, kemudian ia tanamkan hal tersebut dalam hatinya dan ia goda orang lain dengan perbuatan orang tadi, ia serahkan hamba tersebut kepada mereka hingga ia terjerumus dalam dosa lalu ia singkap kejelekannya tersebut. Allah ta’ala menutupi aibnya, sedangkan setan berusaha menyingkap dan membuka aib itu. Si hamba ini tertipu dan berkata: dosaku ini tidak ada yang melihat kecuali Allah, padahal musuhnya begitu gesit menyebarkan dan menyingkap aibnya. Sangat sedikit sekali orang yang menyadari hal ini.

Kejahatan yang lain adalah bila manusia tidur, setan membuat tiga ikatan di kepala yang mencegahnya untuk bangun. Sebagaimana dijelaskan dalam Shahih Bukhari dari riwayat Said bin Musayyib dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk kepala kalian ketika kalian hendak tidur. Setiap ikatan ini menahan bagian tubuh selama malam yang panjang hingga ia tertidur pulas. Apabila ia bangun lantas menyebut Allah lepaslah satu ikatan, kemudian bila ia berwudhu lepaslah satu ikatan lagi, kemudian bila ia shalat lepaslah ikatan-ikatan tersebut semuanya. Maka ia jalani harinya dengan giat dan jiwa yang tenang. Kalau tidak berhasil lepas, ia akan menjalani harinya dengan jiwa yang muram serta rasa malas.”

Kejahatan setan yang lain adalah ia mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur sampai pagi hari, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa diceritakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seorang lelaki yang tidur hingga terbit pagi maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi setan pada kedua telinganya” atau “pada telinganya” (HR Bukhari).

Kejahatannya yang berikutnya adalah setan selalu memalingkan manusia dari setiap perbuatan baik. Setiap jalan menuju kebaikan terdapat setan yang menghadang. Ia berusaha menahan manusia sekuatnya untuk tidak melalui jalan tersebut. Apabila manusia ini tidak menurutinya dan tetap melalui jalan tersebut, ia rintangi dan palingkan manusia tersebut serta ia ganggu manusia itu dengan perlawanan dan rintangan. Jika ia berhasil dan selesai dengan orang ini, ia melakukan sesuatu yang menghapus jejaknya lalu ia kembalikan seperti semula.

Cukup sudah kejahatan setan bahwa ia bersumpah kepada Allah untuk memalingkan anak cucu Adam dari jalan yang lurus. Ia bersumpah akan mendatangi manusia dari arah depan dan  belakang, kiri dan kanan. Kejahatannya telah sampai pada melakukan tipu daya dan muslihat hingga ia berhasil mengeluarkan Adam dari surga. Belum cukup sampai di situ, ia berhasil menjaring dari tiap seribu [sembilan ratus] sembilan puluh sembilan anak cucu Adam menuju neraka. Tidak cukup sampai di situ, ia melakukan tipu muslihat untuk menghancurkan dakwah Allah dari muka bumi, ia hendak menjadikan dakwah tersebut menuju dirinya dan menyembah kepada selain Allah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan cahaya Allah dan menghancurkan dakwahnya serta menegakkan dakwah kepada kekufuran dan kesyirikan, menghapus tauhid beserta panji-panjinya dari muka bumi. [Bada’i al Fawaid, 2/ hal219-220]
Share:

Sifat Sombong itu Lebih Buruk daripada Kesyirikan


Oleh: Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah
Penerjemah: Badruddin Az-Zarkasyi

Dosa pertama kali yang dilakukan oleh Iblis dan Nabi Adam adalah kesombongan dan  ambisiusme. Adapun sombong merupakan dosa Iblis yang terlaknat, kemudian berpindah secara turun-temurun. Sedangkan dosa Nabi Adam, yaitu sifat ambisius dan mengikuti keinginan syahwat, yang menyebabkan Nabi Adam bertaubat serta mendapatkan hidayah. Adapun dosa Iblis tersebut membuatnya menyalahkan takdir dan beranggapan hal itu merupakan suatu ketetapan, sedangkan dosa Nabi Adam mengharuskannya untuk mengakui dosanya serta memohon ampunan.           
            
Orang-orang yang sombong dan yang menyalahkan takdir, senantiasa bersama pemimpin mereka yaitu Iblis menuju ke neraka. Adapun para pengikut syahwat kemudian memohon ampunan dan bertaubat lagi mengakui dosa-dosa mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyalahkan takdir, mereka senantiasa bersama bapak mereka yaitu Adam di surga.
            
Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: "Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah."  
            
Aku berkata, oleh sebab itu Allah menjadikan neraka tempat bagi orang-orang yang sombong. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat Gafir:

ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا فَبِئْسَ مَثْوَى اْلـمُتَكَبِّرِيْنَ 

(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong."  (Q.S. Gafir: 76)

Dan Allah Ta'ala berfirman dalam Surat An-Nahl: 29,

   فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى اْلـمُتَكَبِّرِيْنَ 

"Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu."

Dan Allah Ta'ala berfirman:

وَيَوْمَ القِيَامَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَّبُوا عَلَى اللهِ وُجُوْهُهُم مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِيْنَ   

"Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?" (Q.S. Az-Zumar: 60)
            
Bahwasanya orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang, Allah akan mengunci mati hati mereka. Allah berfirman:  
كَذلِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى كُلِّ قَلْبٍ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
"Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (Q.S. Gafir: 35)

Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga, barang siapa dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji dzarrah." (H.R. Muslim). Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kesombongan adalah, menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Allah Ta'ala berfirman:
   
إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,…." (Q.S. An-Nisa': 48),
merupakan suatu peringatan, bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa sombong yang lebih besar dari pada dosa syirik. Hal ini sama halnya, barang siapa yang tawadhu' karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Begitu juga barang siapa yang enggan melaksanakan kebenaran, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, dan meremehkannya.
            
Barang siapa yang menyombongkan diri untuk melaksanakan kebenaran -meskipun orang yang menyampaikannya lebih rendah wibawanya, atau pun orang yang dibencinya, atau pun orang yang dimusuhi olehnya- bahwasanya kesombongannya hanyalah kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq, kalam-Nya benar, agama-Nya benar, dan  kebenaran merupakan sifat-Nya, dari-Nya, dan milik-Nya. Jikalau seorang hamba menolak kebenaran tersebut, serta sombong untuk menerimanya, ketahuilah! bahwasanya ia menolak atas Allah, dan sombong kepada Allah, Wallahu a'lam. (Madarijus Salikin, jilid. 2, hal. 339-340)    
Share:

FATAMORGANA

Oleh: Ibnul Qayyim al Jauziyyah
Penerjemah: Umar Farouq Suhaimi

Orang yang mengerjakan amalan tanpa dilandasi niat lillahi ta'ala dan tidak sesuai dengan perintahnya mengira bahwa amalan tersebut akan mendatangkan manfaat baginya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Amalan macam inilah yang Allah ceritakan dalam firmannya :
"Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."

Renungkanlah, Allah SWT menjadikan fatamorgana di tanah qi'ah, yaitu tanah kosong yang tidak ada bangunan,  pepohonan,  tumbuhan dan kehidupan. Di sanalah fatamorgana bertempat, tanah kosong yang tidak ada apa-apanya. Fatamorgana adalah sesuatu yang tak berwujud, itulah perumpamaan bagi amalan dan hati mereka yang kosong dari keimanan dan petunjuk. Amalan mereka bak fatamorgana dan hati mereka bak tanah qi'ah.

Renungkanlah apa yang terkandung dalam firman Allah ini:
يَحْسَبُهُالظَّمْآنُمَاءً
"Orang orang yang dahagamengiranya air."

Dzom'an pada ayat di atas berarti orang yang teramat haus, lalu ia melihat fatamorgana yang ia kira bahwa itu adalah sumber air, tetapi ketika ia mendatanginya ia tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan ia dihianati oleh sesuatu yang paling ia butuhkan pada saat itu. begitu pula mereka, tak kala amalan-amalan yang mereka lakukan tidak dilandasi niat lillahi ta'ala dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka amalan-amalan tersebut layaknya fatamorgana. Mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya pada saat mereka membutuhkannya. Dan Allah subhanahu wa ta’ala akan membalas dan menghisab amalan mereka.

Disebutkan dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al Khudriy tentang tampaknya Allah di depan hamba-hambanya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :   ("Lalu jahannam didatangkan dan dibentangkan, seolah-olah ia fatamorgana, lantas orang yahudi ditanya: apa yang dahulu kalian sembah?

Mereka menjawab: kami menyembah 'Uzair anak Allah.

Maka dikatakan kepada mereka: kalian telah berdusta. Sesungguhnya Allah tidakmempunyai istri dan anak. Lantasapa yang kalian inginkan?

Mereka menjawab: kami ingin engkau memberi kami minuman.

Lalu dikatakan kepada mereka: minumlah! Mereka langsung berjatuhan ke dalam neraka jahannam.

Kemudian orang-orang nashara ditanya: apa yang kalian sembah dahulu?

Mereka menjawab: kami menyembah 'Isa al masih anak Allah.

Lalu dikatakan kepada mereka: kalian telah berdusta, sesungguhnya Allah tidak mempunyai anak dan istri, lantas apa yang kalian inginkan?

Mereka menjawab: kami ingin engkau memberi kami minuman.

Lalu dijawab: minumlah! Dan mereka langsung berjatuhan ke dalam neraka jahannam")

Begitulah kondisi orang yang amalannya sia-sia. Ia akan dikhianati oleh kesia-siannya takkala ia membutuhkannya, karena amalannya itu tak berwujud. Jika aqidah yang dipeluk seseorang tidak sesuai dengan kebenaran maka pemeluknya tidak akan mendapatkan melainkan kesia-siaan.

Begitu pula jika orientasi sebuah amalan itu salah, seperti beramal untuk selain Allah, atau tidak sesuai dengan perintahnya, maka amalanitu akan menjadi sia-sia karena orientasi yang salah. Bahkan pelakunya akan mendapatkan mudharat karena ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan dari amalan yang sia-sia tersebut. Amalan dan aqidahnya tidak dapat menolongnya. Dan ia akan diadzab karena tidak ada mafaat yang ia dapatkan darinya bahkan yang ia dapatkan adalah kemudharatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
"Dan diadapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberika kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungannya."


Itulah permisalan bagi orang yang sesat yang dia mengira dirinya berada di atas kebenaran dan petunjuk.
Share:

Janganlah tenggelam terhadap apa – apa yang telah dijamin untukmu!

Oleh: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Penerjemah: Rizqo Kamil Ibrahim

Curahkanlah pikiran anda untuk hal-hal yang Allah perintahkan, dan janganlah berlarut – larut dalam hal yang sebenarnya telah dijamin untuk anda. Sesungguhnya rezeki dan ajal merupakan dua hal yang telah dijamin untuk anda rasakan. Selama ajal belum menjemput maka rezeki akan selalu menghampiri. Jika dengan hikmah Allah tertutup satu jalan dari banyak jalan untuk mendapatkan rezeki, maka dengan rahmat-Nya akan terbuka jalan yang lain yang sejatinya lebih bermanfaat untuk anda daripada jalan yang telah tertutup tadi.

Cobalah perhatikan bagaimana keadaan janin yang mendapatkan makanan dalam wujud darah dari satu jalan saja, yaitu melalui plasenta sang ibunda! Ketika sang janin keluar dari perut ibunya maka jalan tersebut putus. Kemudian terbukalah untuknya dua jalan lain yang lebih baik dan lezat dari yang pertama, yaitu air susu ibu yang murni dan lezat. Setelah masa menyusui berakhir maka dua jalan tersebut (payudara sang ibu) terputus karena penyapihan. Selanjutnya, dibukakanlah empat jalan yang lebih sempurna dari sebelumnya, yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yang dimaksud berasal dari hewan dan tumbuhan. Sedangkan dua minuman adalah dari air dan susu serta yang bisa diserupakan dengan keduanya dalam hal manfaat dan kelezatan.

Jika ajal menjemput maka jalan-jalan tersebut pun terputus. Tetapi Allah membuka baginya delapan jalan –jika manusia tersebut merupakan orang yang "sa'id" (yang selamat di akhirat)- yaitu pintu-pintu surga yang jumlahnya ada delapan, dan dia dapat masuk dari pintu mana pun yang ia kehendaki.

Demikianlah, Allah tidak menghalangi hamba-Nya untuk mencicipi sesuatu di dunia ini kecuali menggantinya dengan yang lebih baik darinya dan lebih bermanfaat. Istimewanya, hal ini khusus bagi orang yang beriman saja. Allah melarang orang mukmin mengambil bagian yang paling hina dan paling sedikit serta tidak diridhai-Nya, agar ia mendapatkan bagian yang lebih baik dan lebih berharga.

Karena ketidaktahuan terhadap kemaslahatan dirinya sendiri, kemuliaan, hikmah, dan kelembutan Rabb-nya, seorang hamba tidak bisa mengetahui perbedaan antara apa yang dicegah darinya dan apa yang disimpan untuknya. Perhatiannya hanya tertuju kepada kesenangan yang ada di dunia, sekalipun sebenarnya itu sangat hina. Tidak memperhatikan kesenangan akhirat, sekalipun itu sangat berharga.

Andai seorang hamba bersikap adil kepada Rabb-nya –namun sanggupkah seorang hamba bersikap adil?- Tentu ia akan tahu bahwa karunia-Nya atas dirinya berkenaan dengan larangan-Nya mencari dunia, kesenangan, dan kenikmatannya ialah lebih besar daripada karunia-Nya berkenaan dengan apa yang Dia berikan kepadanya. Sejatinya Allah tidak memberikan sesuatu kecuali menggantinya dengan sesuatu yang lain.  Dia tidak memberikan seseorang musibah kecuali untuk memaafkannya; tidak mengujinya kecuali untuk menyucikannya; tidak mematikannya kecuali untuk mengidupkannya; serta tidak mengeluarkan ke dunia ini kecuali untuk bersiap-siap untuk bertemu dengan-Nya dan menempuh jalan menuju kepada-Nya.

"Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur" (QS. Al- Furqan: 62)

"Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS. Al-Isra’:99)

Share:

Hati Manusia dan Macamnya

Oleh: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Penerjemah: Bunayya Fathi Rasyadi


Hati manusia itu ada tiga macam:
  • Pertama: Hati yang tidak ada cahaya iman dan tidak ada sedikitpun kebaikandi dalamnya. Inilah hati yang gelap. Hati di mana para setan telah menjadikanya sebagai rumah dan tempat tinggal, sehingga dengan mudahnya mereka membisikan kejahatan kepada manusia, bertindak sesuka hati terhadapnya, dan pada akhirnya benar-benar menguasainya.
  • Kedua: Hati yang telah diterangi oleh keimanan, yang mana keimanan tersebut senantiasa memancarkan cahayanya di dalam hati manusia, akan tetapi hati ini terkadang masih tertutup oleh gelapnya syahwat dan masih terus diterpa oleh badai godaan yang dahsyat. Pada jenis hati yang seperti ini, terkadang setan masih mampu menembus masuk, namun kemudian keluar lagi.Dia pun masih mempunyai ruangdi dalam hati manusia dan masih terus mendapatkan makanan darinya. Begitulah kemenangan untuk setan dan hati kecil manusia masih terus silih berganti. Dan keadaan hati jenis ini berbeda-berbeda, bergantung pada sedikit banyaknya kebaikan dan keburukan yang ada pada hati manusia tersebut. Diantara manusia ada yang kemenanganya atas setan lebih banyak daripada kekalahanya, diantara mereka ada juga yang justru kekalahanya dari setan lebih dominan, dan diantara mereka ada pula yang terkadang menang dan terkadang kalah.
  • Ketiga: Hati yang penuh dengan keimanan dan terus disinari oleh cahayanya, hati yang tidak lagi tertutup oleh syahwat, dan hati yang telah terhindar dari kegelapan. Cahaya iman tadi senantiasa menyinari hati. Dan sinar itu tidak berhenti menyala, sehingga jika ada bisikan setan yang berusaha mendekatinya, terbakarlah ia. Hati yang seperti ini bagaikan langit yang dilindungi oleh bintang-bintang, apabila ada setan yang melangkah mendekatinya untuk mencuri kabar tentang perkara-pekara yang akan datang dari langit, malaikat akan melemparnya dengan bintang sehingga terbakarlah ia. Dan sungguh, tidaklah langit itu lebih mulia dari diri seorang yang beriman. Maka, penjagaan Allah terhadap hati seorang mukmin pun lebih sempurna daripada penjagaanya terhadap langit. Jikalau langit adalah tempat beribadahnya malaikat, tempat diturunkanya wahyu, dan di dalamnya terpancar cahaya ketaatan, maka, hati seorang yang beriman itu adalah tempat bersemayamnya tauhid, kecintaan terhadap Allah, ilmu tentang-Nya, iman kepada-Nya, dan di dalamnya terdapat pula cahaya yang terpancar dari sifat-sifat mulia tersebut. Maka benarlah bahwa hati lebih berhak untuk dilindungi dan dijaga dari tipu daya musuh, dan tidaklah para musuh berhasil melancarkan tipu dayanya ke dalam hati seorang mukmin, kecuali Allah akan melenyapkan tipu daya tersebut seketika itu juga sehingga hati kembali bersih. 



  • Pertama: rumah seorang raja yang terdapat di dalamnya harta simpanan serta permata-permatanya.
  • Kedua: rumah orang biasa yang di dalamnya tersimpan harta bendanya dan tidak tedapat padanya pemata raja maupun harta simpananya.
  • Ketiga: rumah kosong yang tidak terdapat apapun di dalamnya.

Hal di atas telah dimisalkan dengan permisalan yang bagus, yaitu dengan tiga rumah:
Kemudian datanglah pencuri yang hendak mencuri dari salah satu ketiga rumah tersebut. Maka, di rumah manakah kira-kira dia akan mencuri?
Apabila anda mengatakan si pencuri akan mencuri di rumah yang kosong, maka itu adalah hal yang mustahil. Karena pada dasarnya, rumah yang kosong tidak mempunyai barang bernilai yang bisa dicuri. Maka dari itu pernah suatu ketika dikatakan kepada Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma: "sesungguhnya orang-orang Yahudi mengira bahwa mereka tidak pernah diganggu oleh setan dalam shalat mereka". Kemudian Ibnu Abbas berkata: "memang apa yang akan setan perbuat terhadap hati yang sudah rusak?". Kemudian jika anda mengatakan bahwa si pencuri akan mencuri di rumah sang raja, maka itu pun merupakan hal yang hampir tidak mungkin bisa dilakukan. Karena sesungguhnya pada rumah tersebut terdapat penjagaan dan perlindungan yang bahkan untuk mendekatinya pun si pencuri tidak bisa. Dan bagaimana dia akan berhasil mencuri apabila ternyata penjaganya adalah sang raja sendiri? Dan bagaimana pula si pencuri bisa mendekati rumah tersebut bila ternyata di sekeliling rumah itu pun sudah tersebar para pengawal dan pasukan raja? Maka, tidak ada kemungkinan lain bagi si pencuri kecuali mencuri di rumah yang ketiga, yaitu rumah yang mungkin untuk diserang dari segala arah.
Maka, hendaknya kita renungkan permisalan di atas dengan baik kemudian membiarkanya tersimpan di dalam hati, dan memang begitulah seharusnya.

Share:

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

IKPM Madinah Tour: Badr & Yanbu'

Foto bersama di padang pasir, Badr Oleh: Ibnu Taufiki            Bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berbagai...