Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Sabtu, 16 Maret 2013

Janganlah tenggelam terhadap apa – apa yang telah dijamin untukmu!

Oleh: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Penerjemah: Rizqo Kamil Ibrahim

Curahkanlah pikiran anda untuk hal-hal yang Allah perintahkan, dan janganlah berlarut – larut dalam hal yang sebenarnya telah dijamin untuk anda. Sesungguhnya rezeki dan ajal merupakan dua hal yang telah dijamin untuk anda rasakan. Selama ajal belum menjemput maka rezeki akan selalu menghampiri. Jika dengan hikmah Allah tertutup satu jalan dari banyak jalan untuk mendapatkan rezeki, maka dengan rahmat-Nya akan terbuka jalan yang lain yang sejatinya lebih bermanfaat untuk anda daripada jalan yang telah tertutup tadi.

Cobalah perhatikan bagaimana keadaan janin yang mendapatkan makanan dalam wujud darah dari satu jalan saja, yaitu melalui plasenta sang ibunda! Ketika sang janin keluar dari perut ibunya maka jalan tersebut putus. Kemudian terbukalah untuknya dua jalan lain yang lebih baik dan lezat dari yang pertama, yaitu air susu ibu yang murni dan lezat. Setelah masa menyusui berakhir maka dua jalan tersebut (payudara sang ibu) terputus karena penyapihan. Selanjutnya, dibukakanlah empat jalan yang lebih sempurna dari sebelumnya, yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yang dimaksud berasal dari hewan dan tumbuhan. Sedangkan dua minuman adalah dari air dan susu serta yang bisa diserupakan dengan keduanya dalam hal manfaat dan kelezatan.

Jika ajal menjemput maka jalan-jalan tersebut pun terputus. Tetapi Allah membuka baginya delapan jalan –jika manusia tersebut merupakan orang yang "sa'id" (yang selamat di akhirat)- yaitu pintu-pintu surga yang jumlahnya ada delapan, dan dia dapat masuk dari pintu mana pun yang ia kehendaki.

Demikianlah, Allah tidak menghalangi hamba-Nya untuk mencicipi sesuatu di dunia ini kecuali menggantinya dengan yang lebih baik darinya dan lebih bermanfaat. Istimewanya, hal ini khusus bagi orang yang beriman saja. Allah melarang orang mukmin mengambil bagian yang paling hina dan paling sedikit serta tidak diridhai-Nya, agar ia mendapatkan bagian yang lebih baik dan lebih berharga.

Karena ketidaktahuan terhadap kemaslahatan dirinya sendiri, kemuliaan, hikmah, dan kelembutan Rabb-nya, seorang hamba tidak bisa mengetahui perbedaan antara apa yang dicegah darinya dan apa yang disimpan untuknya. Perhatiannya hanya tertuju kepada kesenangan yang ada di dunia, sekalipun sebenarnya itu sangat hina. Tidak memperhatikan kesenangan akhirat, sekalipun itu sangat berharga.

Andai seorang hamba bersikap adil kepada Rabb-nya –namun sanggupkah seorang hamba bersikap adil?- Tentu ia akan tahu bahwa karunia-Nya atas dirinya berkenaan dengan larangan-Nya mencari dunia, kesenangan, dan kenikmatannya ialah lebih besar daripada karunia-Nya berkenaan dengan apa yang Dia berikan kepadanya. Sejatinya Allah tidak memberikan sesuatu kecuali menggantinya dengan sesuatu yang lain.  Dia tidak memberikan seseorang musibah kecuali untuk memaafkannya; tidak mengujinya kecuali untuk menyucikannya; tidak mematikannya kecuali untuk mengidupkannya; serta tidak mengeluarkan ke dunia ini kecuali untuk bersiap-siap untuk bertemu dengan-Nya dan menempuh jalan menuju kepada-Nya.

"Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur" (QS. Al- Furqan: 62)

"Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS. Al-Isra’:99)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda!


Cari Blog Ini

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

SILATURRAHIM WARGA IKPM DENGAN MAHASISWA BARU

     IKPMMADINAH.COM, Madinah- Sabtu (8/9), Segala puji dan puja khadirat Allah subhanahu wata'ala, karena atas berkat rahmat dan h...

Google+ Followers