Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Sabtu, 16 Maret 2013

Malaikat dekat dengan Orang yang Berbudi Mulia dan Setan akan Menjauh darinya


Oleh: Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Penerjemah: Haikal Alghomam bin Suhardi

Inilah kelebihan besar yang dimiliki seorang yang berbudi mulia, karena setan menjauh darinya, berarti ia terhindar dari perbuatan buruk. Dan dekatnya mereka dengan malaikat, berarti ia dekat dengan perbuatan baik. Di dalam hadits telah disebutkan tentang hal ini, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seseorang menghina Abu Bakar radhiyallahu anhu, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di dekatnya, Nabi pun terkejut dan tersenyum. Ketika orang ini semakin menjadi-jadi, Abu Bakar membantahnya. Nabi pun langsung marah dan berdiri. Maka Abu Bakar langsung menyusul beliau sambil berujar, “Wahai Rasulullah! Ketika orang ini menghinaku engkau tetap duduk. Mengapa ketika aku membantahnya, engkau malah marah kemudian pergi?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ada malaikat yang membelamu. Ketika engkau malah membantah orang ini, datanglah setan. Dan aku tidak mau duduk bersama dengan setan.” Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai Abu Bakar! Ada tiga kebenaran. Yang pertama: ketika seorang hamba dizhalimi tetapi ia tidak membalasnya karena Allah, Allah akan menguatkan dan menolongnya. Yang kedua: ketika seorang hamba membuka pintu untuk memberi dengan maksud rela berbagi, Allah akan menambah hartanya menjadi banyak. Yang ketiga: ketika seorang hamba membuka pintu untuk mengemis dengan maksud untuk mendapatkan harta banyak, Allah akan mengurangi hartanya menjadi sedikit” (HR Ahmad [2/436] dan Abu Daud [4896-4897] dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As Silsilah As Shahihah [2231]).
            
Orang yang pertama memahami sesuai dengan pemahaman nabi yang hebat ini adalah Khadijah radhiyallahu anha, yaitu ketika diutusnya Nabi setelah didatangi oleh malaikat Jibril pertama kali. Ketika itu, Nabi masih khawatir dengan risalah yang dibawakan kepadanya dan beliau belum meyakini bahwa yang mendatanginya adalah malaikat. Disebutkan dalam kitab shahihain dalam riwayat Aisyah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bercerita, “Wahai Khadijah! ada apa dengan diriku?” beliau memberitahu Khadijah apa yang terjadi dan berkata, “Aku benar-benar khawatir akan diriku”, “Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakan engkau. Demi Allah, engkaulah yang menyambung silaturrahim, selalu jujur dalam berkata, selalu membantu orang yang lemah, selalu mencari orang yang hilang, selalu menjamu tamu dan selalu menolong musibah yang benar”, hibur Khadijah.
            
Renungkanlah bagaimana beliau radhiyallahu 'anha menjadikan akhlak tersebut sebagai tameng bagi Nabi dari tipu daya dan malapetaka setan. Dan beliau mendapatkan tanda-tanda bahwa apa yang dibawa oleh Nabi adalah wahyu dari Allah bukan tipu daya setan. Hal tersebut karena Nabi bukanlah seorang yang penipu dan pendosa.
            
Karena sang manusia utusan adalah seorang yang terpercaya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, maka yang turun kepadanya adalah malaikat utusan yang terpercaya pula, yang membawa wahyu Tuhan alam semesta yaitu Jibril alaihis salam
Sebagaimana tertera dalam firman Allah ta’ala: 
“Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa oleh ar-ruh al-amin (ruh yang terpercaya-Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu termasuk orang-orang yang memberi peringatan” (QS Asy Syuara’ 192-194). 
Karena sang manusia utusan adalah hamba yang mulia sebagaimana firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar wahyu(kepada) Rasul yang mulia. Dan ia bukanlah perkataan seorang pujangga” (QS Al Haqqah 40-41). Maka, yang turun kepadanya adalah malaikat utusan yang mulia pula, yang membawa wahyu Tuhan alam semesta yaitu Jibril alaihis salamSebagaimana tertera dalam firman Allah ta’ala: 
“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘arsy” (QS At Takwir 19-20).
            
Dan selanjutnya, para salaf dapat mengenal kebohongan orang yang mengaku nabi hanya karena orang tersebut telah terkenal dengan kebohongannya. Karena kebohongan adalah pangkal kesalahan mental dan kesalahan lainnya, sebagaimana disebutkan dalam kitab shahihain, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kedustaan membawa pada kejahatan”. Juga karena setan adalah sang maha pendusta, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Hurairah setelah ia didatangi setan yang mencuri, “Dia berkata jujur padamu, padahal sebetulnya ia adalah pendusta”. Maka sudah pasti komandan para pendusta dan pendosa, yaitu setan, selalu terhubung dengan para manusia pendusta dan pendosa. Seperti kisah Mukhtar bin Abi Ubaid si pendusta, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Ibnu Katsir dengan sanadnya dari Abu Zumail, “Aku sedang duduk bersama Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, lalu datanglah Mukhtar bin Abi Ubaid, kemudian seorang lelaki datang sambil berujar, “Hai Ibnu Abbas! Abu Ishaq (Mukhtar) ini mengaku bahwa ia mendapatkan wahyu malam tadi". “Betul”, jawab Ibnu Abbas. Aku pun bangkit dan berujar, “Bagaimana mungkin Ibnu Abbas mengatakan dia benar?” Ibnu Abbas menjawab, “Wahyu itu ada 2 macam: wahyu Allah dan wahyu setan. Wahyu Allah diturunkan kepada Muhammad, sedangkan wahyu setan diturunkan kepada pengikut-pengikutnya” Kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya setan itu berwahyu (membisikkan) kepada pengikut-pengikutnya” (QS Al An’am 121).
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda!


Cari Blog Ini

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

SILATURRAHIM WARGA IKPM DENGAN MAHASISWA BARU

     IKPMMADINAH.COM, Madinah- Sabtu (8/9), Segala puji dan puja khadirat Allah subhanahu wata'ala, karena atas berkat rahmat dan h...

Google+ Followers