Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Sabtu, 16 Maret 2013

The Life of Heart

Oleh: Ibnul Qayyim al Jauziyyah
Penerjemah : Umar Farouq Suhaimi

Sesungguhnya hati akan hidup bersemi dengan amal sholeh, kemauan dan ambisi. Jika sifat-sifat yang demikian ada pada seseorang maka patut diakui bahwa orang itu memliki hati yang hidup bersemi. Demikian pula hati akan hidup dengan dzikir yang tak putus dan menjauhi dosa.

Ibnul Qayyim berkata : saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : barangsiapa yg tekun mengucapkan ya hayyu ya qayyum sebanyak 40 kali setiap harinya, diantara waktu solat sunnah subuh sampai didirikannya sholat subuh, maka Allah SWT akan menjadikan hatinya selalu hidup.

Dzikir, beserah diri, dan meninggalkan maksiat adalah sumber kehidupan hati yang  Allah jadikan khusus untuknya, sebagaimana Allah menjadikan makan dan minuman sebagai sumber kehidupan jasad dan raga. Sifat lalai yang bertengker pada hati, sifat ketergantungan pada perkara-perkala tercela dan syahwat yang terus menerus dilampiaskan akan menjadikan hati lemah, kemudian kelemahan itu akan menguasainya hingga ia menjadi mati. Salah satu tanda matinya hati ialah ketika ia tidak dapat membedakan antara yang ma'ruf dan munkar, tidak melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Abdullah bin Mas'ud berkata : tahukah kalian orang yang hatinya mati? Yang disifati oleh seorang penyair dalam bait sya'irnya :

لَيْسَ مَنْ مَاتَ فَاسْتَرَاحَ بِمَيْتٍ                      إِنَّمَا المَيْتُ مَيِّتُ الْأَحْيَاءِ

Orang yang telah mati lalu beristirahat tenang tidak pantas disebut mati,kematian sejati adalah kematian orang yang masih hidup.

Mereka pun bertanya : siapakah dia wahai Ibnu Mas'ud? Maka Ibnu Mas'us menjawab : mereka adalah orang-orang yang tidak bisa membedakan  antara yang ma'ruf dan yang mungkar, tidak melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar.

Seseorang akan dikatakan mu'min sejati takkala ia lebih takut terhadap kematian hatinya daripada kematian jasad dan raganya. Pada umumnya kebanyakan dari manusia hanya takut kepada kematian jasad, tidak memperdulikan kematian hati. Mereka hanya hidup secara tabi'at manusia, hanya untuk makan, minum dan harta. Itulah tanda-tanda matinya hati dan jiwa. Kehidupan yang demikian dapat diumpamakan  dengan naungan awan yang pasti akan pergi, tumbuhan yang pasti akan kering,mimpi yang seakan nyata padahal hanya khayalan. Umar bin Khattab berkata : Seandaikan seluruh kehidupan dunia ini    -dari bermula hingga berakhir - diberikan kepada seseorang, kemudian kematian menghampirinya, maka ia tak lain halnya dengan orang yang tertidur, lalu ia bermimpi dengan mimpi indah yang membuatnya amat terlampau senang, tetapi ketika ia terbangun, ia hanya mendapatkan tangan yang hampa.
            
Dan diriwayatkan bahwa kematian itu ada dua jenis : kematian irody dan kematian alami (yaitu yang akan dirasakan semua orang). Barang siapa yang mati dalam kematian irodi maka sesungguhnya itu adalah awal kehidupan baginya. Maksud dari kematian irody adalah mengendalikan hawa nafsu yang membinasakan, memadamkan apinya yang membakar, menenangkan gejolaknya yang menghancurkan. Ketika itulah hati bisa berkonsentrasi untuk merenungi hal-hal positif yang bisa membuatnya berada dalam kesempurnaan, mencaritahu hal-hal tersebut, dan menyibukkan diri dengannya. Dengan demikianlah hati akan menyadari bahwa lebih memilih kehidupan dunia yang fana ketimbang kehidupan akhirat yang abadi adalah sebuah kerugian yang paling merugikan.
            
Tetapi jika ia tidak bisa mengendalikan syahwatnya, lebih memilih kenikmatan dunia, dikalahkan oleh hartanya dan dikendalikan oleh tabi'atnya, maka ia akan menjadi bak seorang tawanan yang hina,atau pecundang yang diusir dari tempat tinggalnya, atau seperti orang yang mati terbunuh, penuh dengan luka yang amat menyiksanya. Kondisi terbaik bagi hati adalah selalu  mengobarkan bendera perang terhadap syahwat, walaupun terkadang ia yang menang maupun syahwatnya yang menang.Karena seseorang hamba jika telah mati,maka yang akan menjadi ruhnya di kehidupan kelak adalah ilmu-ilmunya yang bermanfaat, amal-amal sholehnya dan keutamaan-keutamaan yang ia dapatkan takkala ia berhasil menaklukkan nafsunya.
            
Ini adalah perkara yang dimana kebanyakan orang tidak memahaminya dan tidak mau melaksanakan konsekuensinya, keculai mereka-mereka yang cerdas yang mau menggunakan akalnya dan orang-orang yang mempunyai ambisi tinggi dan jiwa yang suci nan agung.  


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda!


Cari Blog Ini

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Pimpinan Pondok Menyampaikan Pidato Kepondok Modernan pada Acara Silaturahmi IKPM Madinah dengan Jamaah Umroh Gontor

KH. Syamsul Hadi Abdan menyampaikan pidatonya di hadapan para hadirin IKPMMADINAH.COM, IKPM Madinah mengadakan pertemuan dengan Pim...

Google+ Followers