Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Kamis, 27 November 2014

Seputar Pendaftaran S2 & S3 di KSU (King Saud University) Riyadh - KSA

Bismillah,
Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas sekilas tentang kuliah di King Saud University (KSU). Klik disini bagi yang belum baca, bagi yang ingin baca kembali juga tidak apa-apa. Kali ini saya ingin sedikit sharing pengalaman seputar pendaftaran di KSU, khususnya untuk program postgraduate (pascasarjana).

Sekilas Tentang Pendaftaran

Pendaftaran dapat dilakukan secara online lewat portal pendaftaran di www.dgs.ksu.edu.sa . Informasi pendaftaran, cara pendaftaran dan syarat-syarat dapat diperoleh dari portal tersebut. Sejauh yang saya ketahui KSU hanya melakukan seleksi berkas, tidak ada tes tulis maupun interview (Sangat mudah kan?). Pendaftaran dibuka setahun sekali, biasanya sekitar bulan November dan Desember (Mulai kuliah Agustus/September tahun berikutnya).

Pada tahun-tahun sebelumnya (sampai tahun 2010), pendaftaran dapat dilakukan dengan berkorespondensi dengan professor/dosen di jurusan yang dituju. Jika ada kecocokan dengan professor/dosen yang bersangkutan maka tinggal kirim berkas kepada mereka lewat email, lalu mereka yang akan memprosesnya ke bagian admission (pendaftaran). Saya sendiri pernah mengalami dua proses pendaftaran ini (pendaftaran S2 tahun 2010 dengan berkorespodensi dengan dosen di jurusan T. Elektro KSU, pendaftaran S3 secara online di akhir tahun 2012).

Jurusan yang Ditawarkan

Tidak setiap jurusan di KSU menawarkan progam S2 dan S3 untuk mahasiswa asing. Jurusan yang menawarkan program S2&S3 pun tidak setiap tahun membuka pendaftaran. Namun, secara umum hampir seluruh jurusan membuka pendaftaran program studi S2&S3 yang ia miliki. Daftar jurusan yang dibuka pendaftarannya dapat dilihat di https://dgs.ksu.edu.sa/DGS1/Admin/AvailablePrograms.aspx. Untuk mendapat gambaran umum tentang jurusan/program studi yang ditawarkan bisa menuju website masing-masing jurusan (www.colleges.ksu.edu.sa). Contoh website jurusan teknik elektro klik disini.

Syarat Pendaftaran

Secara umum pesyaratan yang dibutuhkan untuk pendaftaran adalah sebagai berikut,
Untuk program master/S2:
1. Paspor
2. Ijazah S1 dan Transkrip
3. TOEFL, IELTS (Tergantung jurusan yang diambil)
4. Rekomendasi dari 2 dosen

Untuk program doctoral/S3:

1. Paspor
2. Ijazah S2 dan Transkrip
3. TOEFL iBT 61 (atau yang setara), IELTS 5, STEP 81 (STEP hanya ada di Saudi Arabia)
4. GRE (151 Quantitative Reasoning) atau test “Qudrat Jam’iyah” (Test ini hanya di Saudi Arabia)
5. Rekomendasi dari 3 dosen

Sepengetahuan saya untuk hasil tes bahasa Inggris (TOEFL,IELTS, GRE, dll) dapat dikirim menyusul lewat email meskipun deadline pendaftaran sudah habis. Namun perlu dicatat, berdasar info dari pengawai pendaftaran pascasarjana sekarang KSU tidak mengeluarkan surat penerimaan sementara. Jadi jika syarat-syarat tidak lengkap (termasuk hasil tes TOEFL/GRE) maka tidak ada surat penerimaan. Hal ini berbeda dengan KFUPM yang menerapkan “Penerimaan Bersyarat” yang mana hasil tes tersebut bisa menyusul dikirim jika sudah dinyatakan diterima. Lebih lanjut syarat-syarat dapat dilihat di: http://ksu.edu.sa/sites/KSUArabic/Deanships/Grad/programs/Pages/programs00.aspx (dalam bahasa Arab). Tetapi saya lihat beberapa persyaratan yang ada tidak update sesuai yang diterapkan sekarang.


Cara Pendaftaran

Tampilan portal pendaftaran online KSU
Sebelum mendaftar secara online pastikan Anda sudah http://ksu.edu.sa/Deanships/DeanshipofGraduateStudies/Documents/RegistrationManual.pdf).  Langkah pertama adalah membuat account di portal pendaftaran (klik bagian “New Student Registration” untuk membuat account baru). Setelah memiliki account Anda bisa login dan mulai mengisi form yang ada. Anda akan diminta mengupload berkas-berkas yang dibutuhkan (paspor, ijazah, transkrip, hasil tes Toefl, dll).
membaca petunjuk pendaftaran (
Secara umum form pendaftaran berisi hal-hal berikut:
1. Student’s basic information (Informasi tentang pendaftar)
2. Type of study and academic degree (Program yang mau diambil. Pilih ‘Normal’ lalu pilih Master/PhD)
3. Basic requirements (Informasi tambahan tentang Anda)
4. Experience information (Toefl, GRE, dll)
5. Whom to contact in emergencies (CP saat darurat)
6. University degree information (Ijazah Anda sebelumnya)
7. Information on recommendation letters (Rekomendasi bisa online bisa lewat scan)
8. Selecting the discipline desired (Jurusan yang akan Anda daftari)
9. Sending the application
10.Exit.

Setelah selesai mengisi form pendaftaran Anda memili dua pilihan: sent (kirim) atau preview (lihat kembali). Jika Anda telah yakin mengisi seluruh informasi yang dibutuhkan maka pilih sent, jika masih ragu cek kembali dengan klik preview. Sebagai catatan penting, Anda dapat mengupdate applikasi/data yang telah dikirim sampai batas akhir masa pendaftaran.

 Catatan Tentang Penulisan Nama

Sebelumnya perlu diketahui bahwa jika pergi ke Saudi Arabia disyaratkan nama di pasport minimal 3 suku kata. Jika nama asli kurang dari 3 suku kata maka bisa minta ke kantor Imigrasi untuk penambahan nama. Contoh nama lengkap saya hanya satu suku kata: Sutrisno, lalu saya meminta ke kantor Imigrasi (Surabaya) untuk melakukan penambahan nama sehingga menjadi Sutrisno Warsono Ibrahim (Dimana Warsono adalah nama bapak saya, sedang Ibrahim adalah nama kakek saya).
Berkaitan dengan pendaftaran online KSU, pada bagian “Student’s basic information” di situ diminta menuliskan nama lengkap. Ada 4 kolom (Firstname, father, grandfather and family). Jika paspor Anda sudah terdiri dari 3 suku kata maka tinggal tulis ulang saja suku kata keempat. Contoh: Sutrisno Warsono Ibrahim Ibrahim.

Tentang Surat Rekomendasi

Untuk program master disyaratkan 2 surat rekomendasi, sedang untuk doktor disyaratkan 3 rekomendasi. Pemberi rekomendasi biasanya disyaratkan adalah dosen yang telah mengajar Anda sebelumnya (misal dosen di S1 atau pembimbing). Ada dua cara untuk surat rekomendasi: paper dan online.  Untuk cara pertama, surat rekomendasi ditulis seperti biasa oleh dosen pemberi rekomendasi (bisa juga kita yang nulis), lalu dia tanda tangani. Setelah itu kita scan dan upload ke portal pendaftaran. Format surat rekomendasi terserah (Lebih lanjut tentang membuat surat rekomendasi bisa dibaca di:http://www.wikihow.com/Write-a-Letter-of-Recommendation). Adapun cara kedua, yaitu secara online. Anda cukup mengetikan email dosen Anda yang akan Anda mintai untuk memberi rekomendasi. KSU secara otomatis akan mengirimkan form rekomendasi ke email beliau untuk beliau isi. Lalu beliau diminta untuk mengupload form yang telah diisi (KSU akan memberitahu dosen yang bersangkutan teknis menguploadnya).

Tips dan Saran bagi Pendaftar
1. Banyak mencari informasi (terutama lewat website)
2. Tanya-tanya kenalan di KSU (Namun hendaknya kita menjaga etika dalam bertanya, jangan selalu mengejar dengan berbagai pertanyaan. Hendaknya kita aktif mencari informasi lewat website dan yang lainnya, jika ada yang kurang jelas baru tanya)
3. Berusaha maksimal (Contohnya selalu mencari update informasi, segera tes TOEFL/GRE jika memang memungkinkan, dll)
4. Sharing dengan sesama pendaftar
5. Persiapan dana (Setidaknya kita akan keluar uang untuk urusan administrasi visa, beli tiket, pegangan selama di Saudi Arabia sampai beasiswa turun, dll. Biaya ganti tiket dapat diurus sesampai di Saudi nantinya)
6. Banyak berdoa dan Sabar (kadang kala proses/progress pendaftaran tidak jelas)
Sekian dahulu yang dapat saya tulis, semoga tulisan ini bermanfaat. Mungkin ada sebagian kata yang salah ketik karena nulisnya agak terburu-buru. Insyaallah tulisan ini akan saya update.

Sutrisno W. Ibrahim. Riyadh, 30 Oktober 2013. [update: 18 Nov 2013]

Disclaimer:   Tulisan ditulis berdasar pengalaman dan informasi yang saya miliki. Mungkin sebagian ketentuan telah berubah. Berusahalah mencari informasi yang sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber agar mendapat informasi yang update dan akurat. 

Sumber asli:  https://sutrisnolink.wordpress.com/2013/10/30/seputar-pendaftaran-s2s3-di-ksu/
Share:

Selasa, 25 November 2014

Amal Ibadah yang Pahalanya Setara dengan Pahala Jihad di Jalan Allah


Oleh: Hedi Kurniadi bin Helmi, Lc*



Di antara kasih sayang dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya ialah menghadiahkan ummat ini amalan yang ringan dan mudah untuk dikerjakan namun memiliki ganjaran pahala yang sangat besar. Pahala yang setara dengan mujahid (orang-orang yang berjihad di jalan Allah) berupa surga Firdaus yang tinggi. Amalan-amalan tersebut di antaranya  adalah :


Yang pertama, menuntut ilmu.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia sedang (berjuang) di jalan Allah sampai ia kembali.” (H.R. Tirmidzi, dan dihukumi sebagai hadits Hasan oleh Syeikh Al-Albaniy)


Hadits yang agung ini mengisyaratkan bahwa orang yang menuntut ilmu (ilmu syar’i) sama halnya dengan orang yang sedang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa saat ini menuntut ilmu lebih utama dibandingkan orang yang berperang di jalan Allah. Mengapa? Sebab kejahilan, fitnah syubhat dan syahwat yang sedang merebak telah menggerogoti tubuh kaum muslimin. Di mana ritual kesyirikan merajalela, amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dianggap bagian dari ajaran Islam, ditambah aliran-aliran sesat dan menyesatkan siapa saja yang dangkal ilmu agamanya.  Dan untuk menyembuhkan penyakit itu semua adalah dengan ilmu, ilmu yang dapat membedakan mana perkara yang haq dan mana yang bathil. Ilmu yang akan menuntut kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, marilah kita mengerahkan seluruh tenaga untuk menuntut ilmu agama, mengajak sanak keluarga untuk menghadiri majlis-majlis ilmu. Paling tidak mengarahkan mereka untuk mendengarkan (radio atau televisi dakwah) serta video-video ceramah yang sangat mudah diakses di internet. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِيْ الدِّيْنِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka akan difahamkan ia dalam perkara agama.” (Muttafaq ‘alaih)


Yang kedua, orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِيْنِ كَالمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوِ القاَئِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ
“Orang yang berusaha (menolong) janda dan orang miskin, (akan mendapatkan pahala) seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau orang yang qiyamul lail semalam suntuk dan puasa sehari penuh.” (H.R. Bukhori)


Saat ini, terutama di negara-negara konflik seperti Suriah, Iraq, Palestina dan lain sebagainya banyak sekali wanita-wanita janda yang suaminya terbunuh  saat  mereka berjuang melawan zionis Israel, syi’ah nushoiriyah, dan seterusnya. Nah, sebagai saudara seiman tentunya kita diperintahkan untuk membantu mereka, salah satunya ialah dengan memberikan sumbangan dana yang dapat disalurkan melalui organisasi-organisasi yang bergerak dalam pelayanan masyarakat seperti Peduli Muslim, Peduli Kemanusian Radio Rodja, Misi Medis Suriah, dan yang lainnya. Begitu juga membantu orang-orang miskin di sekitar kita dengan memberikan mereka makanan misalnya, maka insya Allah kita akan mendapatkan balasan pahala yang setara dengan pahala orang yang berjihad atau berperang di jalan Allah Ta’ala. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِياً فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِياً فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barang siapa mempersiapkan (membekali) orang yang berperang, maka sungguh ia telah berperang. Barang siapa yang menanggung keluarga orang yang berperang, maka sungguh ia telah berperang.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ilustrasi
Yang ketiga, birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua

               Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengutarakan keinginannya untuk ikut berperang bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang lain. Akan tetapi Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung memberikannya izin untuk turut serta melainkan bertanya terlebih dahulu kepadanya,  
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Tanya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada laki-laki itu,
“Ya”, Jawabnya singkat,
Maka Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.”

(Kisah ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori rohimahullah dalam kitab al-Adab dan Imam Muslim rohimahullah dalam kitab al-Birr wa ash-Shilah)
           

            Dengan demikian bagi siapa saja yang orangtuanya masih hidup, jangan sia-siakan kesempatan untuk mendapatkan pahala seorang mujahid yang berperang di jalan Allah Ta’ala tanpa harus terjun langsung ke medan pertempuran, yaitu ganjaran berupa surga Allah Ta’ala yang kenikmatannya kekal untuk selama-lamanya


Yang keempat, beramal sholeh pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah,


            Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat mulia Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ فقال رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.”


            Maka beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan waktu tersebut, yaitu sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang baru saja berlalu dengan amal ibadah seperti sedekah misalnya, puasa ‘Arofah, qiyaamul lail, dan seterusnya. Adapun bagi mereka yang lalai atau karena ilmu yang belum sampai sehingga melewatkan kesempatan untuk beribadah pada hari-hari tersebut, semoga tahun yang akan datang dapat dipertemukan kembali dengan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah dan memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin, aamiin.


            Dan masih banyak lagi amalan-amalan yang ganjarannya setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah seperti bersedekah semata-mata mengharapkan ridho dan balasan dari Allah Ta’ala, bekerja untuk menafkahi istri dan anaknya begitu pula untuk kedua orang tuanya, pergi haji dan umroh, mujahadatu an-nafs (berjuang mengendalikan hawa nafsu), berpegang teguh dengan sunnah di zaman fitnah ini, duduk di masjid setelah sholat untuk menunggu sholat, dan lain sebagainya.


            Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya sehingga kita dapat mengerjakan amalan-amalan yang ringan namun besar pahalanya.


            Sekian semoga bermanfaat, wallahu ta’ala a’lam.

*Penulis adalah alumni S1 Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, alumni PP Darul Istiqomah Bondowoso, Jawa Timur.
Share:

Minggu, 23 November 2014

K.H. Maftuh Basyuni Temui Mahasiswa Indonesia di Madinah

Madinah – Sabtu pagi(22/11) K.H. Muhammad Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Bersatu, berkenan untuk menemui sejumlah mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Madinah, Arab Saudi. Kunjungan ini adalah dalam rangka melaksanakan ibadah umrah bersama rombongan keluarga.

Dalam pertemuan ini beliau banyak berpesan tentang peran alumni perguruan tinggi Timur Tengah, terutama alumni Universitas Islam Madinah dalam berdakwah di tanah air dan juga perannya sebagai sumber ilmu agama. Disampaikannya juga tentang bahaya Syiah yang mulai menyebar di Indonesia.

Beliau juga bercerita tentang sejumlah pengalaman Menteri Agama dalam menghadapi berbagai permasalahan haji, umrah hingga permasalahan TKI Arab Saudi yang hendak dihukum mati dan lain sebagainya.

Pada pukul 10.00 waktu setempat, Pak Maftuh beserta rombongan berangkat meninggalkan kota Madinah menuju Makkah untuk melanjutkan rentetan ibadah umrah.


Share:

Sabtu, 22 November 2014

NASEHAT REKTOR UIM UNTUK PUTRA-PUTRANYA PARA MAHASISWA


Prof. Dr. Abdurrahman As-Sanad
            Yang terhormat rektor Universitas Islam Madinah Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah As-Sanad mengapresiasi instruksi pemerintah kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang diterima untuk belajar di UIM. Beliau mengungkapkan bahwa UIM akan berusaha untuk mewujudkan instruksi ini dengan merespons minat para penuntut ilmu dari seluruh dunia islam. Tak lupa beliau mengingatkan para mahasiswa agar tidak tersibukkan belajarnya oleh hal-hal lain mulai dari orientasi intelektual dan golongan, hingga konflik perpolitikan. Karena seorang thalib diharuskan untuk menjauhi hal-hal tersebut mengingat buruknya suatu perpecahan. Siapa yang menyeru untuk berpisah dari jamaah kaum muslimin berarti ia menyeru kepada keburukan dan kekacauan.
       Hal ini disampaikan oleh beliau dalam acara pertemuan terbukanya dengan para mahasiswa, Ahad (9/11/14) lalu. Pada kesempatan tersebut, beliau memberikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru tahun ini. Beliau yakin bahwa yang ada di hatinya hanyalah perasaan sebagai seorang ayah, kasih sayang, penghargaan dan rasa bangga kepada setiap individu dari mahasiswa-mahasiswanya. Dalam hal ini, pemerintah Arab Saudi sudah berusaha maksimal dan segala harapan akan tercapai dengan izin Allah. 
            Prof. As-Sanad memastikan bahwa kampus yang didirikan oleh kerajaan agar menjadi matahari yang menyinari seluruh dunia ini sedang bersiap memasuki umurnya yang ke-55. Kampus ini telah didatangi oleh para pemuda muslim dari seluruh penjuru dunia yang terdiri atas lebih dari 192 kebangsaan dan telah meluluskan lebih dari 70.000 alumni dari tiap negara di dunia. Mereka menyebarkan ilmu dengan asas yang haq serta moderat nan netral (wasathiyyah nan i'tidal-red). Kerajaan Arab Saudi amat bangga dan menyambut dengan tangan terbuka mereka yang datang untuk bernaung di Taibatu at-Taibah(1) dari berbagai penjuru dunia.
          Beliau juga menerangkan bahwa mengasuh mahasiswa Universitas Islam Madinah adalah sebuah kewajiban yang tiada bandingannya. Itulah yang dirasakan oleh pemimpin dan waliyyul amr kita yang membangun kampus ini untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin menuntut ilmu di bawah payungnya. Juga merealisasikan segala sesuatu yang dapat membuat para penuntut ilmu betah dan nyaman. Kita memiliki biro-biro, kantor-kantor administrasi serta komite-komite yang bertujuan untuk memperhatikan kondisi mahasiswa sehingga mereka merasa di tanah air dan rumah sendiri karena perhatian yang diberikan.
            Prof. As-Sanad menambahkan, "Kita bersyukur kepada Allah ta'ala atas nikmat dan karunia yang amat besar atas kita, terutama nikmat tauhid murni yang telah dilaksanakan oleh kampus ini sejak berdirinya hingga sekarang. Kemudian kepada para waliyyul amr kita di bawah pimpinan Pelayan Kedua Tanah Haram, Raja Abdullah bin Abdul Aziz yang telah memberikan segala bimbingan, dukungan dan perhatian kepada universitas ini. Juga rasa terima kasih kepada Yang Mulia Pangeran Mahkota, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Pangeran Salman bin Abdul Aziz atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kampus ini. Selanjutnya, kepada YM Wakil Pangeran Mahkota, Wakil Perdana Menteri Ke-2 dan Penasihat & Duta Pribadi Raja Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz atas bantuan dan bimbingannya terhadap kampus ini. Tak lupa, ungkapan terima kasih kepada gubernur Provinsi Madinah, YM Pangeran Faisal bin Salman bin Abdul Aziz atas bantuan, tindak lanjut dan bimbingan beliau, serta kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Dr. Khalid bin Muhammad Al-Anqari atas tindak lanjut yang  intensif serta kontinu kepada kampus ini."  
            Beliau juga menasehati anak-anaknya para mahasiswa dengan kalimat yang beliau sebut berasal dari hati ke hati, nasehat yang penuh kasih dan kepedulian. Beliau menginginkan bahwa mahasiswa Univ. Islam Madinah dapat menjadi panutan bagi mahasiswa seluruh dunia dalam hal ketakwaan kepada Allah azza wa jalla, kepemilikan niat yang tulus serta dalam mengalokasikan waktu, karena fase menjadi mahasiswa adalah masa terbaik dalam keseluruhan hidup seorang manusia...
            Prof. As-Sanad juga menegaskan bahwa siapa yang datang untuk menuntut ilmu tidak boleh teralihkan dan tersibukkan oleh apapun juga, dimulai dari tren pemikiran dan partisan hingga konflik perpolitikan. Karena seorang thalibul ilm diharuskan untuk menjauh dari hal-hal tersebut mengingat buruknya suatu perpecahan. Siapa yang menyeru untuk berpisah dari jamaah kaum muslimin berarti ia menyeru kepada keburukan dan kekacauan. Apabila seorang 'penyeru di ambang pintu neraka' (2) datang kepadamu mengajak kepada suatu kelompok atau golongan, berpeganglah pada jamaah dan imam kaum muslimin, menghindarlah dari kesemua golongan tersebut. Berpeganglah kepada jamaah kaum muslimin atau hindarilah kelompok-kelompok tersebut. Kita berada di kerajaan Arab Saudi, kita berpayung kepada jamaah kaum muslimin dan imamnya adalah Abdullah bin Abdul Aziz beserta komponen pemerintahan lainnya. Apabila kita perhatikan kondisi kaum muslimin saat ini, di negara-negara tersebut mereka keluar dari naungan pemimpin mereka, hingga terjadilah kekacauan-kekacauan, pembunuhan dan kejahatan-kejahatan yang kita saksikan sendiri. Maka hendaklah kita menghindar dari hal-hal yang menyebabkan itu semua. 
             Beliau juga berterima kasih kepada para mahasiswa atas kepatuhan mereka terhadap peraturan dan instruksi yang berkaitan dengan penerbitan tasrih resmi pada musim haji kemarin. Pada tahun depan, kampus akan menyediakan kesempatan berhaji bagi 3.000 orang mahasiswa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Program umroh untuk mahasiswa dan keluarganya juga akan ditambah. Salah satu proyek UIM adalah membangun fasilitas olahraga untuk pelaksanaan kegiatan mahasiswa yang berkaitan dengan itu. Telah dibangun juga dua proyek di kota Yanbu' dan Rayis dan insyaAllah akan segera dimulai rekreasi untuk mahasiswa ke kedua tempat ini. Ditambah pula dengan peningkatkan kualitas pemondokan dan kenyamanan mahasiswa. Semoga usaha dan proyek kampus yang telah selesai akan menjadi kebahagiaan tersendiri buat para mahasiswa. Apa yang telah disiapkan tersebut adalah suatu kelaziman untuk sebuah pekerjaan yang mulia, menuntut ilmu.
         
========================
Taibatu at-Taibah, 9 November 2014

(Diterjemahkan oleh Haikal Alghomam Suhardi, mahasiswa S1 Fak. Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah, alumni Gontor tahun 2010  dari status laman facebook Prof. Dr. Abdurrahman As-Sanad bertanggal 4 November 2014)

Catatan kaki:

[1] Taibatu at-Taibah adalah nama lain yang disematkan kepada kota Madinah selain Madinah, Thobah dan Taibah.
[2] Istilah 'penyeru di ambang pintu neraka'(دُعاةٌ على أَبْواب جهَنَّمَ)  berasal dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Apakah sesudah datangnya kebaikan ini ada kejahatan?” Beliau menjawab, “Benar.” “Yaitu datangnya para da’i di ambang pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang mengikuti seruan mereka, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka. ” Lalu aku (Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkanlah kepada kami kriteria me­reka!” Beliau menjawab, “Mereka itu kaum dari umat kami dan berbicara dengan bahasa kami.” (HR. Bukhari 3/1319).


Share:

Kamis, 20 November 2014

Mengambil Upah Dari Mengajarkan Hadits


Oleh: Hedi Kurniadi bin Helmi, Lc*


Mengajarkan atau menyampaikan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu bentuk pengagungan kita terhadap sunnah yang mulia. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiallahu’anhuma ia berkata, aku mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah (hadits) dariku meski satu ayat.” (H.R. Bukhori)

Pengajaran Hadits (ilustrasi)
Sahabat mulia Abu Dzar rodhiallahu ‘anhu berkata: “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar tidak luput dari tiga perkara: Mengajak kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan mengajarkan sunnah pada manusia.”

Mengajarkan sunnah atau menyampaikan hadits juga termasuk ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, sedangkan setiap ibadah mensyaratkan keikhlasan niat. Barangsiapa meminta 'iwadh[1] maka akan menjadikan niatnya cacat. Inilah yang akan menjadi pembahasan kita kali ini, bagaimana hukum mengambil upah dalam mengajarkan hadits bagi seorang ahli hadits. 

Misalnya ia mengatakan: "Aku tidak akan mengajarkan hadits atau riwayatku, sampai kalian membayarku sekian...". 

 Baiklah, siapakah ahli hadits yang mempunyai syarat seperti itu? Apakah haditsnya diterima atau tidak? Apakah sama dengan orang yang mengatakan: "Aku tidak akan mengajarkan kalian al-Qur'an atau menjadi imam kecuali kalian membayar dengan jumlah sekian." 

Adapun seseorang yang diminta mengajar di sebuah instansi lalu diberi gaji oleh pimpinannya, ini bukan termasuk dalam pembahasan kita. Yang menjadi masalah adalah meminta upah atau timbal balik, sebab di dalamnya mengandung unsur jual beli antara kedua belah pihak yang mana salah satu dari mereka mengambil manfaat dari yang lain.

Sebagian ahli ilmu (ulama) bersikap mutasaahil[2] dan membolehkan mengambil upah dalam mengajarkan al-Qur'an, adapun dalam mengajarkan hadits mereka mutasyaddid[3]. Yang menjadi salah satu penyebabnya adalah kebutuhan seseorang untuk mempelajari Al-Qur'an yang akan dibaca waktu sholat dan lain sebagainya.

Berbeda dengan mengajarkan hadits, jika ada seseorang yang melarang mengambil upah darinya, maka akan ada orang lain yang membolehkannya, sebab kebutuhan terhadap hadits lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan terhadap Al-Qur'an.

Pendapat yang pertama, membolehkan untuk mengambil upah dari tahdiits[4] dan ini pernah dilakukan oleh sebagian ahli hadits seperti Abu Nu'aim Al-Fadhl bin Dukain, Ali bin 'Abdil 'Aziz Al-Baghowiy dan ulama hadits lainnya. Mereka menqiyaskan dalil jumhur yang membolehkan mengambil upah dari mengajar Al-Qur’an sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam:

إنَّ أحقَّ ما أخذتم عليه أجرًا كتابُ الله
“Sesungguhnya (mengajarkan) kitabullah adalah yang paling berhak kalian ambil upahnya.” (H.R. Bukhori)

Pendapat kedua melarang untuk mengambil upah, juga tidak menerima dan menulis haditsnya. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rohuyeh, Abu Hatim Ar-Roziy, Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka mengatakan bahwa mengambil upah dari mengajarkan hadits termasuk hal-hal yang menjadikan ‘adalah[5] seorang perawi cacat, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafidz Al-'Iroqi:
 يَخْرُمُ مِنْ مًرًوْءَةِ الإِنْسَانِ
“(Mengambil upah dari mengajarkan hadits) dapat merusak wibawa seorang rowi.” 

Syu’bah berkata:
لا تكتبوا عن الفقراء شيئًا، فإنهم يكذبون لكم
“Janganlah kalian menulis apapun dari orang-orang faqir, karena mereka akan menipu kalian.” 

Selain itu juga akan menjadikan manusia berburuk sangka kepadanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Khotib Al-Baghdadiy:

إنما مُنعوا من ذلك تنزيهاً للراوى عن سوء الظن به؛ لأن بعض من كان يأخذ الأجر على الرِّواية عثر على تزيده وادّعائه ما لم يسمع لأجل ما كان يُعطى
“Dilarang melakukan hal itu (mengambil upah) agar rowi terlepas dari sangkaan buruk terhadapnya. Sebab sebagian orang mengambil upah dari penyampaian riwayat yang ditambah-tambahi dan mengklaimnya, padahal ia tidak pernah mendengarnya karena ingin diupah.”

 Sedangkan pada pendapat yang ketiga terdapat perincian. Jika ahli hadits tersebut ketika mengajarkan hadits harus meninggalkan pekerjaan yang merupakan satu-satunya sumber untuk menafkahi keluarganya, maka dalam keadaan seperti ini dibolehkan mengambil upah dari tahdits. Namun jika mengajarkan hadits tidak menyibukkannya dan ia masih mempunyai sumber pendapatan lain, maka ia tidak diperbolehkan mengambil upah tersebut. Dan ini adalah fatwa Syeikh Abu Ishaq As-Syirozi, syeikh Syafi'iyah di zamannya.

Ash-Shon’aaniy berkata:
فهذا مع العُذْر، وأما مع عدمه فتقدم من منع ذلك
“Ini karena adanya ‘udzur, adapun jika tanpa 'udzur maka telah dijelaskan sebelumnya akan larangannya.”

Dalam hal ini pernah diceritakan dari Imam Al-Baghowiy dan ia adalah salah satu muhaddits yang pada saat itu berada di Mekah. Orang-orang mencelanya karena telah mengambil upah dari mengajarkan hadits, ia lalu berkata: "Kami penduduk Mekah, jika jamaah haji keluar dari Mekah, Abu Qubais dan Qoiqo'an[6] ketika musim haji kami akan mendapatkan kesempitan atau kesulitan dalam mencari nafkah. Oleh sebab itu kami mengambil upah dari mengajarkan hadits.”

Abu Nu’aim bin Dukain berkata: “Orang-orang mencelaku karena mengambil upah, sedangkan di dalam rumahku ada tiga belas orang, dan tidak ada sepotong adonan rotipun di rumahku.”

Selain mereka berdua, ‘Affan bin Muslim yang merupakan salah satu hafidz yang tsabit[7] dari gurunya Imam Bukhoriy juga mengambil upah mengajarkan hadits, meskipun begitu Imam Ahmad tetap saja mensifati beliau dan Abu Nu’aim dengan tatsabbut.

 Begitu juga dengan Ya’qub bin Ibrohim Ad-Dauroqiy, seorang yang hafidz, mutqin[8], yang memiliki Musnad[9] di mana Bukhori dan Muslim membutuhkan periwayatannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ahli hadits yang mengambil upah itu disebabkan adanya kebutuhan yang mendesak, jika tidak berbuat demikian mereka akan kesusahan atau kelaparan.

 Namun tidak diragukan lagi bahwa tidak mengambil upah adalah lebih utama (afdhol). Mengapa? Sebab hal itu lebih menjaga keikhlasan hati, terhindar dari khowarim muruuah[10] dan buruk sangka dari manusia. Sebagian orang alim mengatakan:
علّم مجاناً كما عُلّمت مجاناً
"Mengajarlah tanpa memungut bayaran sebagaimana engkau tidak dipungut biaya ketika dahulu diajar."

Wallahuta'ala'alam..
_____________________
Madinah Nabawiyah, 19 Dzulhijjah 1435 H

(Disarikan dari kajian kitab Alfiah Al-‘Iroqiy yang Disampaikan oleh Syeikh Dr. ‘Abdul Baariy bin Hammad Al-Anshoriy hafidzohullah)

Catatan kaki:


[1] Imbalan atau upah

[2] Agak longgar

[3] Sangat selektif

[4] Menyampaikan atau mengajarkan hadits

[5] Ibnu Al-Atsir rohimahullah berkata: “Sifat dari seorang rowi dan saksi kapan perkataan mereka dianggap dan diakui.” (Jaami’ Al-Ushul 1/126)

[6] Dua gunung yang menghimpit Ka’bah

[7] Kuat hafalannya, terpecaya dalam meriwayatkan hadits

[8] Kokoh hafalannya

[9] Salah satu jenis kitab hadits yang disusun menurut nama sahabat
[10] Rusaknya wibawa



* Penulis adalah alumni S1 Fakultas Hadist, Universitas Islam Madinah, alumni PP Darul Istiqomah Bondowoso, Jawa Timur. 
Share:

Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Pesan Dan Nasehat Dalam Acara Silaturahim IKPM Dengan Bapak Pimpinan Gontor Beserta Rombongan Umroh Ramadhan Gontor

Alhamdulillah sebuah kesyukruan dapat bercengkrama dengan Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Syamsul Hadi Abdan yang se...