Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Rabu, 11 Februari 2015

Menjadi Pemenang di Masa Depan: Renungan Surat Al-Hasyr, Ayat 18 – 20 (Bag. 1 dari 2)


Oleh: Aqdi Rofiq Asnawi, Lc*

Waktu terus berjalan. Ia tak akan pernah berhenti, apalagi mundur. Apa yang kita rasakan saat ini belum tentu dapat kita rasakan esok hari. Masa depan adalah misteri.

Namun, segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan bisa kita persiapkan dari sekarang. Yaitu dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit bekal untuk sesuatu yang tak terduga. Semakin banyak bekal kita, semakin banyak pula kesuksesan yang akan kita raih nantinya.

Kesuksesan yang dimaksud bukanlah kesuksesan di dunia semata, namun juga di akhirat. Bahkan, itulah masa depan sesungguhnya. Kesuksesan manusia benar-benar bisa dilihat ketika sudah berada di akhirat. Sekaya apapun, sepintar apapun, atau sekuasa apapun seseorang di dunia, bila kekal di neraka, apa gunanya?!

Bukankah kehidupan akhirat adalah kehidupan sebenarnya?! Allah subhanahu wa ta'ala- berfirman :

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ( العنكبوت: 64)

Artinya: "Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan saja. Sesungguhnya akhirat itulah kehidupan sebenarnya, jika saja mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut : 64)

Karena itulah Allah –subhanahu wa ta'ala- memerintahkan orang-orang yang beriman supaya mengevaluasi perbuatannya untuk masa depan mereka di akhirat. Allah berfirman :

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18)

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah masing-masing kalian amal perbuatannya untuk akhirat! Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian perbuat." (QS. Al-Hasyr : 18)

Mengenai makna ayat ini, Ibnu Katsir (wafat th. 774 H) rahimahullah mengatakan, "Evaluasilah diri kalian sebelum amal perbuatan kalian dihitung, periksalah amal perbuatan yang kalian simpan untuk diri kalian demi hari dimana kalian akan dikembalikan dan diperlihatkan kepada Tuhan kalian!"([1])

Evaluasi tersebut berdampak besar pada diri seorang hamba. Ia akan sadar bahwa telah banyak maksiat yang ia perbuat, dan ampunan Allah belum tentu ia terima. Sedangkan amal saleh yang ia kerjakan terlalu sedikit. Sehingga dengan mengevaluasi (muhasabah) diri, seseorang akan menambah perbuatan baiknya dan akan berhenti melakukan perbuatan yang buruk ([2]).

Jika kita perhatikan baik-baik perintah mengevaluasi diri pada ayat tersebut, kita akan dapatkan perintah tersebut diapit oleh dua perintah untuk bertakwa. Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa pengulangan perintah takwa ini berfungsi untuk menekankan pentingnya takwa bagi seseorang yang beriman.

Sedangkan Qusyairy (wafat th. 465 H) berpendapat bahwa perintah takwa yang pertama berfungsi untuk mengingatkan orang-orang yang beriman mengenai resiko perbuatan yang baik maupun yang buruk. Takwa yang kedua ialah takwa dalam konteks pengawasan. ([3])

Maka dari itu, takwa yang pertama diikuti dengan evaluasi diri dan takwa kedua dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Allah Maha mengetahui apa yang diperbuat manusia. Dengan kata lain, semua perbuatan manusia diawasi oleh Allah. Mungkin seseorang bisa menutupi perbuatan buruknya di hadapan orang lain. Tapi sesungguhnya perbuatannya tersebut sudah diketahui oleh Allah, sudah tercatat dan akan dipertanggungjawabkan.

Para ulama mendefinisikan takwa secara luas. Thalq bin Habib misalnya, seorang tabi'in yang  wafat antara tahun 90-100 H ini menegaskan bahwa takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah sesuai dengan petunjuk-Nya dengan mengharapkan kasih sayang-Nya dan meninggalkan maksiat sesuai dengan petunjuk-Nya karena takut terhadap siksaan-Nya. ([4])

Jangan seperti orang lupa!

Perintah untuk mengevaluasi diri dan bertakwa diikuti dengan larangan menjadi orang yang lupa. Lanjutan ayat di atas :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (الحشر: 19)

Artinya : "Janganlah seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah membuat mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Merekalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19)

Dalam memaknai orang-orang yang melupakan Allah, Ibnu Hibban (wafat th. 354 H) mengatakan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang meninggalkan perintah-Nya, sehingga Allah akan menjadikan mereka lupa berbuat baik untuk diri mereka sendiri([5]). Mereka menjadi lupa beribadah, lupa berbuat baik dengan sesama, lupa menyiapkan bekal untuk akhirat, dan sebagainya.

Dengan tegas Ibnu Katsir mengatakan, "Janganlah kalian lupa mengingat Allah sehingga Allah akan menjadikan kalian lupa mengenai perbuatan untuk kepentingan kalian sendiri dan yang bermanfaat untuk akhirat kelak, karena sebenarnya balasan suatu perbuatan itu masih sejenis dengan perbuatan itu tadi.

Maka dari itu, Allah mengatakan: "merekalah orang-orang yang fasik". Yaitu merekalah orang-orang yang tidak mentaati Allah, merekalah orang-orang yang celaka dan merugi di akhirat.([6])

Dari penjelasan di atas terlihat jelas bahwa salah satu sebab seseorang melakukan banyak maksiat dan lupa berbuat baik sebagai bekal di akhirat ialah karena ia melupakan Allah dan perintah-Nya. Dengan demikian, orang yang ingin mempunyai banyak bekal untuk akhirat haruslah banyak mengingat Allah.

Bersambung…


*Penulis adalah alumni Gontor tahun 2008, lulusan ٍS1 Fak. Hadits dan Diploma Tinggi Balaghoh Universitas Islam Madinah.


([1])Tafsir al-Quran al-'Azhim, cet. Darul Shidiq, jilid 4, hlm. 450.

([2])Ibnu 'Athiyyah (542 H), Al-Muharrar al-Wajiz, jilid 6, hlm. 338.

([3])Lathaif Isyarat, cet. Al-Haihah al-'Ammah al-Mishriyyah li al-Kitab, jilid 3, hlm. 565.

([4])Ibnu Abi Hatim (wafat th. 327 H), At-Tafsir, cet. Maktabah al-'Ashriyyah, jilid 2, hlm. 446. Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-'Azhim, jilid 1, hlm. 244.

([5])Qurthuby (wafat 671 H), Al-Jami' Li Ahkamil Qur'an, cet.Darul Kutub Al-Mishriyyah, jilid 9, hlm. 43.


([6])Tafsir al-Quran al-'Azhim, cet. Darul Shidiq, jilid 4, hlm. 450.

Untuk membaca lanjutan dari tulisan ini silahkan kunjungi di sini.
Share:

2 komentar:

Silahkan berikan komentar anda!


Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

IKPM Madinah Menggelar Kembali Turnament Sepak Bola

Madinah, Jumat/19 Oktober 2018. IKPM Madinah menggelar turnamen Futsal IKPM Madinah Cup yang diikuti oleh seluruh anggota IKPM Mad...

Google+ Followers