Segala macam info dan berita tentang studi di kota Madinah dan Ikatan Keluaga Pondok Modern Gontor Cab. Madinah

Rabu, 01 Mei 2019


Sumbangsih M. Mustafa Al-A’zami dalam Studi Al-Qur’an Kontemporer
Oleh: Aqdi Rofiq Asnawi, Lc., Dipl., M.A.

Di era modern muncul beberapa ide dan teori yang menyangsikan Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya metode yang digunakan untuk meneliti Al-Qur’an merujuk pada metode studi Bibel. Padahal banyak perbedaan antara keduanya sehingga metode penelitian pun tidak bisa disamakan. Faktor yang lain berupa anggapan bahwa semua nabi adalah tokoh legendaris yang dibuat-buat, sehingga Al-Qur’an-pun karangan manusia.
Salah satu ulama dan cendekiawan muslim yang peduli terhadap masalah ini adalah Muhammad Mustafa Al-A’zami. Melalui karya-karyanya beliau mengokohkan fakta bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Pada tulisan kali ini akan dijelaskan biografi singkat beliau dan karya-karyanya dalam bidang studi Al-Qur’an. Diteruskan dengan 3 hal pokok yang terkandung di dalam karya-karya tersebut.

Biografi Syekh Muhammad Mustafa Al-A’zami
Beliau lahir pada tahun 1350 H/1930 M di Mau, sebuah daerah di India yang merupakan bagian dari wilayah Azamgarh. Wilayah ini dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-A’zami. Dari wilayah ini pula lahir seorang ahli hadis bernama Habiburrahman Al-A’zami yang wafat pada tahun 1412 H.
Sejak kecil Syekh Al-A’zami dikenal pintar dan jujur sehingga dijuluki al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Saat di bangku sekolah dasar, beliau paling menyukai pelajaran matematika, bahkan becita-cita menjadi pakar matematika. Namun atas anjuran bapaknya ia mendalami ilmu-ilmu agama.
Mulai kecil beliau berguru kepada beberapa ulama India. Di hadapan mereka beliau menelaah berbagai kitab hadis, fikih, sirah, dan lainnya. Seiring dengan itu beliau juga menimba ilmu di sekolah formal. Sampai akhirnya menamatkan program S1 dari Universitas Islam Darul Ulum Deoband, India, pada tahun 1952.
Kemudian meneruskan studi magister di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan lulus pada tahun 1955. Setelah itu mengajar bahasa Arab di Qatar selama kurang lebih 10 tahun dan menjadi direktur Perpustakaan Umum Qatar semenjak tahun 1966 sampai 1968.
Selama menetap di Qatar beliau bolak-balik Qatar-Inggris guna menempuh studi S3 di University of Cambridge. Pada tahun 1966 beliau berhasil menyelesaikan studinya itu. Disertasi yang beliau tulis berjudul “Studies in Early Hadith Literature” di bawah bimbingan seorang orientalis bernama Arthur John Arberry dan Robert Serjeant.
Pada tahun 1968 beliau memutuskan untuk menetap di Arab Saudi sebagai dosen hadis di Fakultas Syariah di Mekah yang menjadi cikal bakal Universitas Ummul Qurra’. Kemudian beliau dipindahtugaskan untuk mengajar di Universitas King Saud di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, sampai pensiun pada tahun 1991.
Selain itu beliau juga ditunjuk sebagai dosen tamu atau visiting professor di sejumlah universitas terkenal di Barat. Sebut saja University of Michigan, St. Cross College University of Oxford, Princeton University, University of Colorado, dan University of Wales.
Beliau wafat pada tanggal 20 Desember 2017 di rumahnya di Riyadh dan dimakamkan di Nasim, Riyadh. Selama hidupnya beliau telah mengarang 8 buah buku dan mentahqiq 6 buah kitab. Mayoritas karangannya dalam bidang hadis. Lima di antaranya berbahasa Inggris.
Atas jasa-jasanya di bidang studi Islam, Syeikh Al-A’zami mendapatkan penghargaan internasional Raja Faisal dari kerajaan Arab Saudi pada tahun 1980. Dua tahun kemudian beliau juga memperoleh mendali Istihqaq, semacam perhargaan dari pemerintah Arab Saudi kepada warganya.


Karya-Karya Syekh Al-A’zami dalam Studi Al-Qur’an
Syekh Al-A’zami mengarang dua buku yang khusus mengenai Al-Qur’an. Pertama bejudul “The History of Qur’anic Text” (Sejarah Teks Al-Qur’an), dan kedua berjudul “Ageless Qur’an Timeless Text” (Teks Al-Qur’an yang Abadi Sepanjang Masa).
Bukunya yang pertama mengenai Al-Qur’an terbit pada tahun 2003. Karangan yang ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Turki. Buku ini terdiri dari 3 bagian: Sejarah Teks Al-Qur’an, Sejarah Teks-Teks Bibel, dan Menilai Orientalis.
Melalui buku ini sepertinya Syekh Al-A’zami hendak menjelaskan bahwa apa yang terekam dalam sejarah mengenai turunnya Al-Qur’an, penulisannya, dan lain sebagainya lebih baik daripada sejarah Bibel dalam hal-hal tersebut. Sedangkan studi-studi orientalis mengenai Al-Qur’an harus dikritisi dari segi metode dan tujuan.
Bukunya yang kedua mengenai studi manuskrip Al-Qur’an. Kata pengantarnya ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris. Dalam bahasa Arab buku ini berjudul “An-Nashsh Al-Qur’any Al-Khalid ‘Abral ‘Ushur” (Teks Al-Qur’an yang Abadi Sepanjang Masa).
Buku yang terbit pada tahun 2017 ini menjadi buku terakhir yang beliau susun selama hidupnya. Di dalam pengantar yang dwibahasa tersebut, beliau menjelaskan sejarah teks Al-Qur’an, perkembangan bahasa, hasil penelitiannya, dan lain sebagainya. Selain itu juga terdapat lembaran-lembaran manuskrip Al-Qur’an yang disusun sedemikian rupa untuk penelitian.
Dalam tugas akhir S2 saya di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar, dijelaskan lebih lanjut metode yang beliau gunakan dalam meneliti manuskrip Al-Qur’an. Sebagai pembanding saya ulas pula studi kontemporer lainnya mengenai manuskrip Al-Qur’an yang dilakukan oleh Dr. Tayyar Altıkulaç, Dr. Ghanim Qaduri Al-Hamad, Syekh Muhammad Yusuf Rasyid Al-Azhari, François Déroche, Yasin Dutton, dan proyek Corpus Coranicum. Dari perbandingan tersebut saya menyimpulkan bahwa metode yang Syekh Al-A’zami gunakan sangatlah unik dan pertama kali digunakan dalam studi manuskrip Al-Qur’an.

Tiga Hal Utama dalam Kedua Karya Syekh Al-A’zami mengenai Al-Qur’an
Sebenarnya banyak hal yang dibahas oleh Syekh Al-A’zami dalam kedua karyanya tersebut. Namun semuanya bisa dikerucutkan pada tiga hal penting: hakikat Al-Qur’an, studi manuskrip Al-Qur’an, dan metodologi studi Al-Qur’an.
Ketiganya menjadi inti pembahasan Syekh Al-A’zami mengenai Al-Qur’an. Karena pada dasarnya beliau tidak hanya menjelaskan sejarah teks Al-Qur’an dan teks Bibel, namun melaluinya beliau menekankan hakikat Al-Qur’an yang sebenarnya yang berbeda dengan Bibel pada zaman sekarang.
Karya-karyanya bukan dikhususkan untuk membantah ide-ide yang meragukan keaslian Al-Qur’an, tetapi juga menyimpan kaidah-kaidah penting dalam studi manuskrip Al-Qur’an dan metodologi studi Al-Qur’an pada umumnya.
  1. Hakikat Al-Qur’an
Sebagian besar pembahasan di dalam karya-karyanya tersebut menjelaskan hakikat Al-Qur’an dari berbagai sisi. Seperti turunnya Al-Qur’an, penulisannya di zaman Nabi, pengumpulan teks Al-Qur’an setelah Nabi wafat, urutan ayat dalam Al-Qur’an, dan lain sebagainya.
Bahkan bukunya yang pertama sengaja ditulis untuk menjawab artikel Toby Lester yang menurut Syekh Al-A’zami bertentangan dengan kenyataan. Di dalam artikel tersebut Toby Lester menjelaskan Al-Qur’an dari sudut pandang berbagai penelitian yang menolak riwayat-riwayat mengenai Al-Qur’an. Entah riwayat tersebut berupa hadis Nabi atau atsar sahabat dan tabi’in.
Oleh karena itu, dalam karya-karyanya tersebut Syekh Al-A’zami menekankan pentingnya riwayat dalam menjelaskan Al-Qur’an berdasarkan sumber-sumber referensi Islam. Hal ini sangat penting dilakukan seiring dengan adanya usaha untuk mengabaikan referesi Islam dalam studi Al-Qur’an di kalangan akademisi Barat. Termasuk mengabaikan metodologi dan hasil penelitian yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu Al-Qur’an (ulumul Qur’an) dan tafsir.
Sebenarnya di dalam kitab-kitab ulumul Qur’an seperti Al-Itqan karya As-Suyuthi, Al-Burhan karya Az-Zarkasyi, Al-Muharrar karya Dr. Musa’id Ath-Thayyar telah dijelaskan hakikat Al-Qur’an secara terperinci berdasarkan berbagai riwayat. Namun yang menjadi kelebihan karya-karya Syekh Al-A’zami adalah bahasa penyampaiannya, yaitu bahasa Inggris. Sehingga para akademisi Barat dan yang tidak bisa memahami bahasa Arab bisa menjadikannya sebagai rujukan.

  1. Studi Manuskrip Al-Qur’an
Ketika beberapa manuskrip Al-Qur’an abad pertama hijriah ditemukan, banyak akademisi yang menduga akan terjadi perbaikan besar-besaran dalam Al-Qur’an yang sekarang ini di tangan umat Islam. Karena ada berbagai perbedaan antara beberapa manuskrip Al-Qur’an tersebut. Apalagi jika dibandingkan dengan cetakan Al-Qur’an di zaman ini.
Hal ini ditentang oleh Syekh Al-A’zami. Menurut beliau, perbedaan tersebut hanya sebatas perbedaan cara tulis, bukan isi Al-Qur’an. Bahkan beliau menegaskan tidak ada perbedaan yang besar antar manuskrip Al-Qur’an mana pun. Kalau pun ada, manuskrip Al-Qur’an tersebut tidak akan bisa menandingi teks Al-Qur’an yang telah mutawatir dan menjadi konsensus (ijma’) umat Islam.
Syekh Al-A’zami sendiri membuktikan perkataannya tersebut. Beliau mengumpulkan 18 gambar manuskrip Al-Qur’an dari berbagai tempat: Inggris, Perancis, Usbekistan, Turki, German, India, Tunis, dan lainnya. Namun hanya sebatas manuskrip surat Al-Isra’. Beliau membanding seluruh manuskrip tersebut per kalimat untuk mengetahui perbedaan tulisannya.
Hasilnya, beliau hanya menemukan 196 kalimat yang berbeda tulisannya dari 1559 kalimat di dalam surat Al-Isra’. Dengan kata lain hanya 12,6% dari jumlah kalimat. Sedangkan persentasi kecocokan kalimat pada setiap manuskrip dengan cetakan Al-Qur’an antara 92,5% sampai 98,2%.
Hal penelitian ini membawanya pada kesimpulan bahwa berbagai manuskrip semenjak abad pertama hijriah konsisten dengan suatu cara tulis, yaitu rasm utsmani. Adapun beberapa perbedaan cara tulis tersebut bisa jadi karena kelalaian atau kesalahan pribadi orang yang menulis teks Al-Qur’an pada manuskrip.

  1. Metodologi Studi Al-Qur’an
Ada banyak metodologi yang dipakai dalam meneliti Al-Qur’an. Kalangan revesionis, seperti John Wansbrough, Patricia Crone, Michael Cook, dan Andrew Rippin, terkenal dengan penolakannya terhadap sumber-sumber Islam dalam mengkaji Al-Qur’an. Sebagian akademisi yang lain menerapkan metode kritik Bible dalam mengkritik Al-Qur’an.
Syekh Al-A’zami menganggap hal tersebut sebagai bahaya yang besar. Oleh karenanya, beliau menerangkan metodologi yang seharusnya dipakai dalam studi Islam pada umumnya, dan studi Al-Qur’an pada khususnya. Metodologi ini telah dipakai para ulama selama berabad-abad.
Menurut beliau, metodologi studi Al-Qur’an mirip dengan studi Hadits. Keduanya mengedepankan ketersambungan ilmu pada setiap generasi. Misalnya orang yang ingin belajar cara membaca Al-Qur’an secara benar. Hendaknya ia belajar kepada seorang guru yang telah benar bacaannya. Guru tersebut juga memperoleh ilmu tersebut dari gurunya. Begitu terus sampai pada zaman Nabi.
Sama seperti metodologi studi Hadis, dalam studi Al-Qur’an juga ditekankan mengambil ilmu dari orang yang berakhlak baik dan beragama yang lurus. Sehingga kepada siapa seseorang menuntut ilmu merupakan hal yang sangat penting bagi Syekh Al-A’zami.
Maka menurut beliau, belajar agama Islam, entah itu Al-Qur’an, Hadis, Fiqh dan lainnya, hendaknya kepada orang Muslim yang mempercayai bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah utusan Allah, dan telah diturunkan kepadanya Al-Qur’an. Karena pengetahuan suatu agama tentunya diperoleh dari orang yang melaksanakan agama tersebut. Non-muslim yang ingin tahu mengenai Islam hendaknya juga memulai dengan membaca sumber referensi Islam bukan sumber referensi agama lain. Karena memang itu metodologi yang dipakai pada setiap studi.
Dalam karyanya, beliau menegaskan pentingnya mengetahui metode dan tujuan dari setiap penelitian kontemporer mengenai Al-Qur’an. Bahkan beliau menolak usaha non-muslim untuk mendekte umat Islam dalam memahami agama dan menjalankan syariat. Walaupun usaha tersebut berdasarkan alasan bahwa penelitian mereka lebih objektif. Karena sebenarnya penelitian mereka juga tidak lepas dari bias, atau berat sebelah, alias tidak objektif.

Semoga sumbangsih Syekh Al-A’zami dalam studi Al-Qur’an di atas diterima oleh Allah sebagai amal ibadah yang mengalir terus pahalanya. Dan semoga kita bisa mengikuti jejak beliau untuk berkontribusi terhadap kemajuan dan kebaikan umat. Amiin. Allahu a’lamu bishshowab. Semoga bermanfaat.
Education City, Doha, Qatar.
20 Sya’ban 1440 H/25 April 2019 M








Share:

1 komentar:

Silahkan berikan komentar anda!


Official Website Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Madinah, Saudi Arabia. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Pesan Dan Nasehat Dalam Acara Silaturahim IKPM Dengan Bapak Pimpinan Gontor Beserta Rombongan Umroh Ramadhan Gontor

Alhamdulillah sebuah kesyukruan dapat bercengkrama dengan Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Syamsul Hadi Abdan yang se...